Jakarta nan Melankolis; Obrolan Tentang Cuaca dan Rasa  

sky cafeDi satu sore gerimis bulan November, kawasan Jakarta Selatan basah. Beberapa pengendara motor menepi untuk berteduh. “Awet nih kalau hujannya begini,” tutur Pak Gultom, mekanik sekaligus pemilik bengkel yang jaraknya tak jauh di deretan kantor yang ada di Jalan Mohammad Kahfi, Cipedak. Ia sedang membetulkan ban motor saya yang bocor. Beberapa saat sebelumnya, Pak Gultom baru membetulkan kasus yang sama.  “Kupikir yang tadi itu teman kau!” ujarnya dengan logat Batak yang kental.

Lantas saya membuka obrolan tentang cuaca yang ekstrim belakangan ini.  Selanjutnya ia sendiri mulai banyak bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari banjir, kemacetan, hingga suasana politik era 80-an. Ngobrolin soal politik, kondisi Jakarta saat itu sangat rawan dengan premanisme dan permainan para mafia. Baca lebih lanjut

Iklan

Travelogue

KalibiruSuatu Tanggal, Suatu Hari, Suatu Tempat Dalam hidup yang singkat ini, sebaiknya berapa kali kita patah hati?

Cinta, barangkali, memang bukan yang terpenting dalam sejarah manusia di muka bumi. Kuselusuri huruf L dalam indeks buku Leon Trotsky yang sedang kubaca sambil minum kopi, The History of Russian Revolution, dan tidak kutemukan kata ”love”. Bukankah cinta memang bukan bagian dari sejarah?

Aku datang ke kota ini tidak untuk minum kopi—tetapi dalam suatu musim, ketika angin bertiup dingin, kutemukan diriku di bawah atap sebuah kafe, menyeruput kopi sambil memperhatikan matahari menyepuh rerumputan menjadi kuning. Orang-orang tampak melangkah berseliweran.

Kuingat lagu lama, dari sebuah film lama.

there is a long goodbye

and it happens everyday … Baca lebih lanjut