Membabat Gulma Majalah Islam Sabili — Bagian 2 (Selesai)

bukan_pasar_malam_bBerikut adalah perbandingan antara cerpen PULANG yang ditulis oleh Kukuh Setyo Prakoso dengan roman BUKAN PASAR MALAM karangan Pramoedya Ananta Toer. Dari 16 bagian (bab) di roman BUKAN PASAR MALAM, ternyata Kukuh Setyo Prakoso hanya mengambil bagian ke-7 saja. Sebuah kerja penjiplakan yang tanggung. Dan inilah perbandingan itu :

***

PULANG :
Sesudah mandi, aku ada kesempatan melihat-lihat rumah dan pelataran. Mandi itu sebenarnya bukan mandi yang betul-betul. Air di kota kami yang kecil ini tebal oleh lumpur Bengawan Solo. Hanya sesekali saja airnya jernih. Pembagian air PDAM di sini agak pelit. Sehari menyala, lalu sehari kemudian mati. Barangkali air mandi yang tebal inilah yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota besar yang mempunyai pembagian air PDAM yang teratur, bening, dan baik. Di sini, orang berjalan dengan kulitnya yang berkerak-kerak. Kami menyebutnya dengan busik.

BUKAN PASAR MALAM :
Jam Sembilan pagi aku bangun. Baru sesudah mandi ada kesempatan padaku melihat-lihat rumah dan pelataran.

Mandi itu sebetulnya bukan mandi betul-betul. Air di kota kami yang kecil itu tebal oleh lumpur. Pembagian air ledeng di sini tak boleh diharapkan. Barangkali air mandi yang tebal ini yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota besar yang mempunyai pembagian air ledeng dengan teratur, bening, dan baik. Di sini, orang berjalan-jalan dengan kulitnya yang berkerak-kerak.

***

PULANG :
Rumah yang kudiami semasa kecilku, kini tampak condong dan miring. Sebagian dinding temboknya telah runtuh, dan sebagian lagi retak dimakan jaman. Saking tuanya bangunan ini, aku bahkan tak tahu lagi usianya. Tanah daerah kami adalah tanah bercampur kapur dan lempung. Di musim panas, tanah lempung itu pecah-pecah, dan lantai yang terbuat dari batu disobek-sobeknya.

Di kebun, dekat pagar, kutemui seorang tetangga yang dulunya tukang jagal sapi.

            “Engkau datang Gus?,” ia bertanya penuh hormat.

Memang hampir semua orang terpandang dipanggil Gus di sini. Walau sebenarnya apalah aku ini, hanya anak manusia biasa. Kakekku memang bergelar Raden Ronggo, jadi darah kakek yang mengalir di diriku itulah yang menjadikan orang-orang memanggilku Gus. Panggilan Gus sebenarnya mengingatkan pada Gus Dur. Dia juga dipanggil Gus padahal nama aslinya Abdurahman Wahid. Tapi karena masih keturunan pendiri NU, yang notabene ormas Islam terpandang, maka dia pun juga dipanggil Gus.

Tetanggaku itu bertanya lagi, “Aduh, sudah begitu lama baru datang. Dan waktu datang, ayahmu sedang sakit pula.”

Aku tersenyum oleh perhatiannya itu. Lalu kujawab, ”Ya pak, kemarin-kemarin saya sibuk mencari uang di Jakarta.”

            “Engkau sudah dewasa sekarang, sudah punya istri pula.”

Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. Terdengar lagi, “Kabarnya engkau ditawan.”

Aku tersenyum lagi.

            “Ayahmu bercerita, engkau dicintai polisi. Katanya, engkau ditangkap karena aktif di pergerakan mahasiswa yang ingin menggulingkan sang Jenderal. Engkau juga termasuk salahsatu pentolan gerakan reformasi Sembilan delapan. Beruntung saja, rezim itu tumbang, tak kuat menahan laju perubahan. Dan kamu pun dibebaskan. Begitu cerita ayahmu padaku.” Dia terdiam sejenak, lalu bertanya kembali, “Berapa lama kamu ditahan Gus?.”

BUKAN PASAR MALAM :
Di kebun, dekat pagar, kutemui seorang tetangga yang dulu juga—tukang potong kambing.

“Engkau datang, Gus?”, ia bertanya kehormat-hormatan. “Aduh—sudah begitu lama baru datang. Dan waktu datang, ayahnya sakit pula.”

Aku tersenyum oleh perhatiannya itu. Menjawab:

“Ya, Pak, perang sudah begitu lama menceraikan kita.”

“Engkau sudah dewasa sekarang; sudah punya istri pula.

Aku tersenyum oleh perhatiannya itu. Terdengar lagi:

“Kabarnya engkau ditawan.”

Aku tersenyum lagi.

“Ayahmu bercerita, engkau dicintai Belanda, katanya. engkau harus tinggal dengannya. Berapa bulan ditawan, Gus?.”

***

PULANG :
Dan aku menjawab pertanyaannya. Kemudian aku menyusulkan suaraku. “Cepu ini masih tetap seperti waktu kutinggalkan dulu. Rumah-rumah baru banyak berdiri. Dan rumah-rumah yang lama telah miring.” Aku menengok ke arah rumah. Meneruskan, “Dan rumah kami pun sudah begitu rusak.”

            “Ya Gus, rumahmu ini aku juga yang mendirikan dulu. Waktu itu kamu baru bisa tengkurap. Tiga puluh tahun yang lalu!. Dan selama itu, rumahmu ini belum pernah diperbaiki. Pikir saja. Tiga puluh tahun!. Itu tidak sebentar bila dibandingkan dengan jeleknya tanah di sini. Cobalah lihat rumah-rumah tembok yang didirikan sesudah rumahmu. Semua itu sudah roboh, retak, dan sobek-sobek. Rumahmu itu masih kuat.” Sekarang nada suaranya beruba menjadi ketua-tuaan. “Kalau bisa Gus, harap rumahmu itu diperbaiki. Engkau sudah terlalu lama meninggalkan tempat ini. Dan engkau sudah terlampau lama tak bergaul dengan orang-orang sini. Karena itu, barangkali ada baiknya kuulangi kata orangtua dulu : Apabila rumah itu rusak, maka yang menempatinya pun rusak.”

BUKAN PASAR MALAM :
Dan aku menjawab pertanyaannya. Kemudian aku menyusulkan suaraku:

            “Blora ini masih tetap seperti waktu kutinggalkan dulu. Rumah-rumah baru banyak didirikan. Dan rumah-rumah yang dulu sudah miring-miring.” Aku menengok ke arah rumah. Meneruskan, “Dan rumah kami pun sudah begitu rusak.”

            “Ya, Gus, rumahmu itu aku juga yang mendirikannya dulu. Waktu itu engkau baru bisa tengkurap. Duapuluh lima tahun yang lalu!. Dan selama itu, rumahmu itu belum pernah diperbaiki. Pikir saja. Duapuluh lima tahun!. Itu tidak sebentar dibandingkan dengan jeleknya tanah di sini. Cobalah lihat rumah-rumah tembok yang didirikan sesudah rumahmu—semua itu sudah roboh, bongkar, dan sobek-sobek. Rumahmu itu masih kuat.” Sekarang suaranya jadi ketua-tuaan, “Kalau bisa, Gus, kalau bisa—harap rumahmu itu engkau perbaiki. Engkau sudah terlalu lama meninggalkan tempat ini. Dan engkau sudah terlampau lama tak bergaul dengan orang-orang sini. Karena itu, barangkali ada baiknya kuulangi kata orang tua-tua dulu : Apabila rumah itu rusak, yang menempatinya pun rusak.”

***

PULANG :
Ia diam, diseka mulutnya yang tua itu. Kemudian menundukkan kepalanya. Diteruskan kembali perkataannya. “Ayahmu sudah hampir empat puluh hari di rumah sakit. Tadinya beliau baru saja keluar dari rumah sakit. Nampak pula perubahan pada diri ayahmu. Dari yang tidak permah perhatian apa pun selain kerja dan main kartu, di waktu akhir-akhir ini dia selalu ada di rumah. Tiba-tiba terdengar kabar beliau sakit lagi dan dibawa ke rumah sakit.”

Aku hanya diam, tak menanggapi perkataannya. Tapi dia terus melanjutkan perkataannya, “Aku harap ayahmu lekas sembuh oleh kedatanganmu. Sudah lama ayahmu menunggumu. Oya Gus, engkau anak sulung. Aku harap sekalipun aku ini bukan keluarga atau familimu, peliharalah rumahmu itu.”

Aku menganggukkan kepala dengan berat, diberati oleh perhitungan harga semen, kayu, dan besi. Memang, jaman ini semuanya tak ada lagi yang murah. Dan kulihat orangtua itu mengerti juga akan beratnya anggukanku. Tapi dia tak berkata apa-apa. Dan aku juga tak berkata apa-apa lagi. Kami kehabisan kata. Ini adalah kesempatan baik untuk undur diri.

BUKAN PASAR MALAM :
Ia diam. Disekanya mulutnya yang tua itu. Kemudian menundukkan kepalanya. Matanya memandangi ibu jari kakinya yang dipermain-mainkan. Meneruskan dengan irama minta maaf:

            “Ayahmu sudah empatpuluh hari di rumahsakit.” Suaranya lebih perlahan lagi. “Tadinya beliau baru saja keluar dari rumahsakit. Sehat juga tubuhnya. Nampak betul sifatnya jadi jauh berubah. Kalau tadinya beliau tak pernah memperhatikan apa pun juga selain pekerjaan dan main kartu, di waktu yang akhir-akhir ini beliau selalu ada di rumah.

Tiba-tiba kami mendengar kabar: beliau sakit lagi dan dibawa ke rumahsakit.”

Aku tak menggarami ucapannya itu. Tapi ia meneruskan. Sekarang dengan irama menasihati:

            “Kuharap ayahmu lekas sembuh oleh kedatanganmu itu. Dan lagi—dan lagi—orang tua-tua bilang—engkau masih ingat, bukan?. Masih ingat apa yang kukatakan tadi?. Apabila rumahnya rusak…”

            “Ya,” aku menyambungi.

            “Engkau anak sulung, Gus, aku harap—sekalipun aku bukan keluarga atau familimu—peliharalah rumahmu itu.”

Aku mengangguk-nganggukan kepala dengan berat, diberati oleh perhitungan harga kayu, semen, dan paku. Dan aku lihat orang tua itu mengerti juga beratnya anggukkanku. Tapi ia tak berkata apa-apa lagi. Dan aku pun tak berkata apa-apa lagi. Kami kehabisan perkataan. Ini adalah kesempatan baik untuk mengelakkan diri.

***

PULANG :
Rumah terus mengisi kepalaku sekarang. ‘Rumah rusak, dan orangnya pun rusak’. Dan di sore harinya ketika aku sampai di rumah sakit, kuingat perkataan tukang jagal sapi itu, tanpa berpikir panjang ketika sampai di hadapan bapak, kukatakan ke bapak, “Bapak, rumah itu akan kuperbaiki.”

Tapi bapak sudah terlalu lemah. Perlahan dibuka kelopak matanya. Berkata dengan suara tersandung, “Ya anakku, rumah itu…rumah…rumah itu sudah terlalu…tua.”

Seakan-akan bapak mengucapkan sesuatu tentang diri sendirinya. Kulanjutkan perkataanku, “Bapak, apa yang sebetulnya bapak pikirkan. Ucapkan ke anakmu ini, aku akan ringankan beban bapak.”
Dengan suara orang yang menyerah, “Tak…ada…apa-apa…anakku!.”

BUKAN PASAR MALAM :
Dan dalam berjalan ke rumahsakit itu aku berpikir, barangkali ayah membenarkan pendapat itu juga. Tambah dekat dengan rumahsakit, tambah yakinlah aku dalam hati: sekali ini aku datang membawa obat:

            “Bapak, rumah itu akan kuperbaiki.”

Tapi ayah sudah jauh lebih lemah daripada kemarin. Pelahan sekali dibuka tapuk matanya. Berkata dengan suara sengsara: “Ya, anakku, rumah itu… rumah… rumah itu sudah…sudah…terlalu tua.”

Seakan-akan ia mengucapkan sesuatu tentang dirinya sendiri.

Aku pejamkan mata. Obat itu tak termakan olehnya. Lama tak kutanyai ia. Dan waktu aku bertanya lagi, suaraku berbunyi begini:

            “Bapak, apa yang sebetulnya Bapak pikirkan?.”

Aku lihat ayah menarik nafas. Dan aku lihat ia mencari tenaga dalam nafas yang diisapnya itu. Bibirnya yang kering itu tersenyum. Kemudian matanya yang berlingkar biru itu terbuka sedikit—sedikit saja. Kemudian bersambung dengan suara orang menyerah:

            “Tak… ada…apa-apa…yang kupikirkan..anakku!.” Lemah sekali.

***

PULANG :
Tiba-tiba seluruh badan bapak bergerak, seperti tertarik-tarik oleh sesuatu. Matanya terbuka dengan tiada memandang. Kemudian badai batuk menerjang. Dan dalam keadaan ini, tak ada satu pun manusia yang mampu ringankan beban deritanya. Aku hanya bisa melihat penderitaannya, dengan rasa sesal mengiris dada. Muka yang pucat pasi itu jadi membiru oleh batuknya. Dan ketika batuk mereda, terdengar perkataan dari bapak, “Ada-ada saja hidup manusia ini.”

BUKAN PASAR MALAM :
Dan mata itu tertutup lagi. Sebentar saja. Tiba-tiba seluruh badan itu tertarik-tarik. Matanya terbuka dengan tiada memandang. Kemudian badai batuk menerjang. Dan dalam keadaan seperti itu, tak ada manusia di seluruh dunia bisa meringankan penderitaannya. Dan aku hanya bisa mengawasi dengan penderitaan yang meruyak di dalm dada. Muka yang pucat itu jadi kebiru-biruan oleh batuknya. Dan waktu batuk itu reda terdengar suaranya yang diucapkan cepat-cepat:

            “Ada-ada saja hidup manusia ini.”

***

PULANG :
Kepalanya kemudian miring, memanggilku. “Sini. Mendekat,” dengan suara cepat-cepat. “Kamu baru saja menikah, anakku. Dengan a…nak dari dae…rah Sunda. Kamu harus ingat…pembawaan dari daerah Jawa Tengah ini sedikit banyak beda dengan pembawaan orang yang di…la…hir…kan di Jawa Barat. Eng…kau paham…kan?.”

            “Mengerti bapak.”

            “Karena itu anakku, perhatikanlah ucapan dan ke…lakuan…mu. Ja…ngan sampai…jangan sampai…menying….gung perasaannya.”

Bapak diam. Dipandanginya aku dengan pandang penuh harap. Mata itu tertutup kembali. Cepat-cepat aku berkata, “Ya, bapak.”

BUKAN PASAR MALAM :
Kepalanya dimiringkan, memandangku. Memanggil:

            “Sini. Dekat,” dengan suara yang cepat-cepat. “Engkau baru kawin, Anakku. Deng-an an…ak dari dae…rah Pa-sundan. Engkau harus… harus ingat bahwa pembawaan dari daerah Jawa Tengah ini… ini… sedikit atau banyak berbeda dengan pembawaan orang  yang… yang… dilahirkan , di, di, di, Jawa Barat. Engkau mengerti?.”
            “Mengerti, Bapak,” aku menyahuti dengan suara hati-hati.

            “Karena itu, Anakku, perhatikanlah ucapan dan gerak-gerikmu sendiri, jangan sampai-jangan sampai—ya, jangan sampai menyinggung—menyinggung—menyinggung perasaannya.”
Ayah terdiam. Dipandanginya aku dengan pandang yang mengandung pengharapan besar. Pelahan mata itu tertutup. Cepat-cepat aku berkata:

            “Ya, Bapak.”

***

PULANG :
Beliau mendehem beberapakali, dan menelan dahaknya.

            “Sudah malam anakku,” katanya.

Aku ingat perkataan adikku yang kedua, itulah tanda supaya aku pulang, dan bapak ingin sendiri. Kudekati ranjang bapak, kuraba kakinya yang kering. Hatiku pilu. Bukankah kaki itu dulu seperti kakiku, pernah mengembara ke mana-mana?. Dan kini kaki itu terkapar di atas ranjang rumah sakit. Bukan pula kemauannya. Rupa-rupanya manusia tak selamanya bebas menggunakan tubuh dan hidupnya. Dan kelak, begitu juga dengan kakiku. Aku lihat bapak membuka mata oleh rabaan itu. Dia tersenyum, tapi bukan senyum yang hidup, melainkan sebuah senyum ganjil. Senyum yang memperingatkanku, “Hidup ini, anakku, hidup ini tak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya, dan kelak engkau akan berpikir, bahwa manusia itu selalu saja dalam keadaan rugi. Kecuali…Ya, kecuali…engkau beriman kepada Allah, menegakkan sholat, menunaikan yang hak, dan selalu bersabar atas ketentuan-Nya.”

Aku menunduk. Bersuara lemah, “Bapak, anakmu ini permisi dulu. Besok pagi aku ke sini lagi, aku akan menjaga bapak seharian.”

BUKAN PASAR MALAM :
Ia mendehem beberapa kali, dan menelan dahaknya.

            “Sudah malam sekarang,” katanya lagi.

Dan aku ingat pada adikku yang keempat: itulah tanda supaya aku pulang. Kudekati ranjang ayahku, kuraba kakinya yang kering. Hatiku tersayat. Bukankah kaki itu dulu seperti kakiku juga dan pernah mengembara ke mana-mana?. Dan kini kaki itu terkapar di atas kasur ranjang rumahsakit. Bukan kemauannya. Ya, bukan kemauannya. Rupa-rupanya manusia ini tak selamanya bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya. Dan kelak begitu juga halnya dengan kakiku. Aku lihat ayah membuka matanya oleh rabaan itu. Dan aku lihat juga ia tersenyum—tetapi bukan senyumnya manusia yang hidup; senyum yang ganjil. Senyum yang mengandung  peringatan. “Hidup ini, Anakku, hidup ini tak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya, dan kelak engkau akan berpkir, bahwa sia-sia saja Tuhan menciptakan manusia di dunia ini.”
Aku menunduk. Bersuara lemah:

            “Permisi, Bapak.”

***

PULANG :
Bapak memandang jam yang menempel di dinding rumah sakit. Dipandangnya sebentar, kemudian pandangannya beralih padaku. Ia mengangguk. Dan dengan langkah berat pergilah aku meninggalkan rumah sakit itu—rumah tempat orang yang tak bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya sendiri.
(Made in Cepu, 17 September 2008, pukul 7.26 a.m)

BUKAN PASAR MALAM :
Ayah mengambil jam sakunya. Dipandangnya sebentar, kemudian pandangnya dialihkan padaku. Ia mengangguk. Dan dengan langkah berat pergilah aku meninggalkan rumahsakit itu—rumah tempat orang yang tak bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya sendiri.

***

Saya kira, apa yang ditulis Kukuh dalam cerpen PULANG tak ada yang kebetulan, melainkan disengaja. Atau tak mungkin juga ide jatuh tiba-tiba dari langit dan menghantam ruang imajinya sehingga cerpennya sama persis dengan roman Pram, sebab imajinasi bukan mesin fotocopy. Saya tidak tahu banyak tentang batasan sebuah karya disebut plagiat atau tidak. Tapi dari perbandingan di atas saya yakin bahwa cerpen PULANG adalah tulisan plagiat.

Sejak pertamakali membaca cerpen ini, yaitu sekitar akhir tahun 2008, saya langsung mengirimkan sebuah email ke redaksi Majalah Islam Sabili. Email tersebut sudah terhapus, tapi saya masih ingat inti tulisannya, bahwa saya menyoroti satu hal : “Majalah Islam Sabili yang dikenal sebagai majalah yang menyoroti masalah keagamaan secara agresif, menghentak-hentak, dan berani, jangan sampai abai kepada anak kandungnya sendiri, yaitu rubrik ELKA (Lembar Khasanah) yang selalu hadir sebagai sisipan di majalah tersebut, di mana cerpen PULANG dimuat.”

Sampai saat ini saya tidak pernah tahu apakah Majalah Islam Sabili merespon email saya atau tidak. Dan sebelum tulisan ini dibuat, cerpen PULANG yang menjiplak dari roman BUKAN PASAR MALAM selalu saja menagih janjinya kepada saya untuk didadarkan dalam tulisan, bukan hanya dierami dalam ingatan.

Mengenai kasus ini, entah kenapa, saya mencoba mencarinya di Google (perpustakaan digital dengan data melimpah-limpah), siapa tahu sudah ada yang menuliskannya, tapi saya tak berhasil menemukan satu catatan pun. Barangkali dari ribuan pembaca buku Pramoedya Ananta Toer tak ada satupun yang tahu—atau mungkin tak peduli—-dengan kasus ini, sehingga tak ada usaha untuk merekamnya dalam tulisan. Tapi semoga saja saya salah. Mudah-mudahan sebelum tulisan ini lahir, sudah ada tulisan lain yang mendahului membahas mengenai kerja penjiplakan ini. Tapi kalaupun memang belum ada, anggap saja ini sebuah otokritik : bahwa membabat gulma Majalah Islam Sabili, adalah juga membabat gulma diri saya sendiri. [ ]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s