Atta

Atta panggilannya. Saya tidak mengenalnya secara pribadi. Tidak pernah bertatap muka, dan tidak tahu wajahnya seperti apa. Tapi saya mengenal lewat tulisan-tulisannya di sebuah blog pribadi yang enak dibaca. Waktu masih kuliah di Bandung saya rutin mengunjungi blognya. Sempat beberapa bulan tidak ditengok, dan sekarang mulai rajin lagi berkunjung.
Siapa pun, atau setidaknya menurut saya, dengan membaca tulisannya, kita dapat merasakan bahwa hidup Atta memang layak untuk dirayakan. Hidup yang manis dengan persahabatan, cinta, dan hasrat menulis. Dalam tulisannya, Atta selalu bisa memotret harmoni bentang alam, ironi manusia, cinta tak terlihat, dan perayaan menikmati hidup dengan cara yang sederhana.

Di profile blognya hanya tertulis : Usia 30, beraktivitas di Jakarta. Hanya itu informasinya. Tapi waktu menelurusi setiap tulisannya, maka saya tahu bahwa dia pernah kuliah di Solo, dan sekarang kembali ke rumahnya, bekerja di Jakarta, dan tinggal bersama ibu dan kakak sulungnya. Di balik tulisannya yang pelan, runut, puitis, perlahan dan sabar, selalu mengapung nuansa inspirasi dan energi positif untuk selalu sadar bahwa hidup begitu indah untuk dijalani. Tapi saya agak terkejut waktu mendapati lagi blognya dan membaca tulisan ini :
Saya tak pernah membayangkan kalau saya akhirnya ada di titik ini. Ketika saya lebih sering berhenti dan melihat sekeliling, membandingkan, dan menyesali banyak hal. Berjalan-jalan dari satu tulisan ke tulisan lain di laman ini membuat saya diliputi keheranan yang sangat. Dari mana energi itu dulu berasal. Saya begitu menikmati semuanya. Menulis dengan rutin. Berjejaring. Dan mensyukuri banyak hal. Malam ini saya merasa seperti orang yang kalah. Dilanda gundah yang sangat. Cemas atas banyak hal yang belum nyata. Saya melihat harapan saya pupus, perlahan-lahan. Pencapaian, eksistensi, penghargaan, waktu yang terbuang. Kepala saya penuh. Ada saran apa yang harus saya lakukan saat ini, ketika saya kehilangan saya.
Seperti juga Atta yang tak pernah membayangkan, saya pun tidak menyangka kalau dia akhirnya akan mengalami berada di titik itu. Agak susah buat saya membayangkan seorang Atta, seorang yang menikmati pekerjaannya, mengapresiasi hidupnya, akan banyak berhenti untuk membandingkan dan menyesali banyak hal. Awalnya saya kira dia akan selalu senang sentosa tanpa dihantui oleh serangan rasa hampa yang senantiasa mengintai. Awalnya saya kira dia tak perlu lagi bicara mengenai eksistensi dan penghargaan, tapi ternyata saya salah.
Dia sebenarnya tidak pernah menggenggam hatinya sendiri, sebab yang menggenggam hati, yang membolak-baliknya adalah Tuhan. Maka kemudian rasa terkejut itu perlahan hilang waktu saya membaca lagi tulisannya yang lain :
Saya tak pernah tahu menjadi 31 ternyata begitu menyulitkan. Pikiran saya kerap dipenuhi kecemasan yang tak penting; pencapaian, masa depan, penyesalan atas waktu yang –menurut saya- terbuang sia-sia, bayangan-bayangan yang belum nyata. Hidup sepertinya terlalu bergegas dan saya tak mempersiapkan bekal yang cukup untuk itu. Seperti lalai membawa kotak makan ketika piknik akhir pekan. Atau seperti mendaki bukit dan diterpa kelelahan yang sangat. Dan saya begitu merindu menulis. Tapi saya tak menulis ketika cemas. Kalimat menguap ketika sedih berkepanjangan. Buntu. Ini hanya benang kusut yang harus diurai, pelan-pelan. Malam ini saya putuskan : Saya tak hendak menyerah pada hidup. Saya berjanji untuk itu.
Ini agak berbeda dengan beberapa kawan yang saya kenal, mereka biasanya menulis ketika dilanda cemas dan sedih, sebab seperti kata Hannah Arendt : “derita akan tertanggungkan ketika menjelma menjadi cerita.”  Bagi Atta sebaliknya, dia malah tak menulis ketika cemas. Dia seperti ingin berkonsentrasi dan fokus melawan rasa sedihnya yang panjang. Dan usahanya tidak sia-sia, dia berhasil menegakkan keyakinan, dia tak hendak menyerah pada hidup.
Pergulatan Atta dengan kecemasannya mengantarkan saya pada sebuah petang rembang di pinggir jalan Jendral Suprapto, Cempaka Putih, ketika gelap mulai merayap. Hujan tak datang sore menjelang malam itu. Macet sudah dimulai dari arah Senen. Lampu jalan bersinar temaram, seperti ingin menyembunyikan tukang sampah yang masih saja menyapu jalan. Usianya mungkin baru 38 tahun, tapi garis wajahnya pasti akan membuat dia terlihat lebih tua. Saya di seberang jalan, menunggu pesanan nasi goreng pindah ke piring.
Saya bertanya dalam hati, apakah tukang sampah itu pernah membandingkan dan menyesali hidupnya? Apakah dia pernah berpikir tentang penghargaan dan eksistensi? Kalau pernah dan nilai hidup diukur dengan materi, pasti tukang sampah itu akan lebih menderita daripada Atta. Dia akan lebih cemas dan sedih dengan kenyataan usianya. Dia akan lebih menyesal berkali-kali lipat dibandingkan dengan Atta. Tapi sekali lagi, bukan dia yang menggenggam hatinya, dia tidak pernah dan tidak akan pernah mengusai hatinya sendiri.
Dalam penilaian dan sudut pandang relatif, penderitaan sesungguhnya adalah ketika kita kehilangan diri sendiri, atau dalam bahasa Atta : “ketika saya kehilangan saya.” Kondisi ini akan menjungkalkan ketenangan hidup, dan cemas yang menumpuk. Belasungkawa saya untuk Atta, semoga deklarasi “tak hendak menyerah pada hidup” berhasil mengembalikan energi menulisnya. Berhasil membuat dia kembali bisa merangkai paragraf-paragraf yang pelan, runut, perlahan, puitis, dan sabar. Saya merindukan tulisannya. [ ]
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s