Membabat Gulma Majalah Islam Sabili — Bagian 2 (Selesai)

bukan_pasar_malam_bBerikut adalah perbandingan antara cerpen PULANG yang ditulis oleh Kukuh Setyo Prakoso dengan roman BUKAN PASAR MALAM karangan Pramoedya Ananta Toer. Dari 16 bagian (bab) di roman BUKAN PASAR MALAM, ternyata Kukuh Setyo Prakoso hanya mengambil bagian ke-7 saja. Sebuah kerja penjiplakan yang tanggung. Dan inilah perbandingan itu :

***

PULANG :
Sesudah mandi, aku ada kesempatan melihat-lihat rumah dan pelataran. Mandi itu sebenarnya bukan mandi yang betul-betul. Air di kota kami yang kecil ini tebal oleh lumpur Bengawan Solo. Hanya sesekali saja airnya jernih. Pembagian air PDAM di sini agak pelit. Sehari menyala, lalu sehari kemudian mati. Barangkali air mandi yang tebal inilah yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota besar yang mempunyai pembagian air PDAM yang teratur, bening, dan baik. Di sini, orang berjalan dengan kulitnya yang berkerak-kerak. Kami menyebutnya dengan busik.

BUKAN PASAR MALAM :
Jam Sembilan pagi aku bangun. Baru sesudah mandi ada kesempatan padaku melihat-lihat rumah dan pelataran. Baca lebih lanjut

Iklan

Membabat Gulma Majalah Islam Sabili — Bagian 1

JA_0001Hal ini sebenarnya sudah lama ingin saya tulis, tapi selalu tertunda, maka persoalan ini jadilah seumpama mayat yang tersimpan di peti es; dingin dan terlupakan. Niat untuk menuliskannya timbul kembali setelah membaca beberapa tulisan ihwal kasus plagiasi di harian Lampung Post dan harian Kompas. Adalah Dadang Ari Murtono yang cerpennya berjudul PEREMPUAN TUA DALAM RASHOMON ternyata adalah hasil plagiasi dari cerita RASHOMON karya seorang cerpenis terbaik Jepang bernama Akutagawa Ryunosuke.

Satu lagi yang menyemangati saya untuk menulis adalah tulisan Akmal Nasery Basral yang mengkritisi cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul DODOLIT DODOLIBRET. Cerpen Seno ini berhasil masuk ke dalam Cerpen Pilihan Kompas tahun 2010, yang padahal menurut Akmal, cerpen ini adalah plagiasi dari karya Leo Tolstoy yang berjudul THREE HERMITS.

Dua kasus plagiasi inilah yang membuat saya kembali teringat dengan cerpen karya Kukuh Setyo Prakoso (selanjutnya ditulis Kukuh), yang dimuat di Majalah Islam Sabili No. 07 TH XVI, 23 Oktober 2008/23 Syawal 1429. Untuk lebih menjelaskan edisi yang mana majalah itu pernah ditumbuhi gulma, pernah memuat sebuah cerpen plagiat, maka saya tambahkan beberapa keterangan sebagai berikut : tulisan di sampul depan majalah berbunyi “America game Over”, dan gambar sampulnya : ikan hiu hendak memakan patung Liberty. Baca lebih lanjut

Tukang Cukur

tukang-cukurPernah merasa marah pada tukang cukur yang kerap mengendalikan kepala saat rambut kita dipotong? Tentu tidak beralasan. Kalau tak mau salah potong, ya tukang cukur harus dituruti. Padahal kepala adalah sumber segala kewibawaan. Presiden akan terlihat lucu kalau fotonya bersama wakil presiden dipajang tanpa kepala di ruangan kelas dan gedung pemerintahan. Tentu tidak lucu juga jika fotonya diganti dengan gambar kedua kaki mereka. Foto dengan gambar kepala kita menjadi simbol ikonik di kartu pengenal, paspor, KTP, ijazah, piagam penghargaan, dan ragam kartu lainnya sebagai sebuah kebanggaan.

“Miringkan ke kiri sedikit, Kang!” kata Pak Ronny. Lalu mesin potong rambut sederhana itu mulai menggerayangi rambut saya.  Sebagai makhluk sosial tak ada alasan saya untuk diam. Agar waktu berjalan lebih cepat, obrolan bersama tukang cukur harus dijadikan sebuah tradisi, tentunya selain obrolan bersama dengan tukang ojek dan supir taksi. Baca lebih lanjut

Atta

Atta panggilannya. Saya tidak mengenalnya secara pribadi. Tidak pernah bertatap muka, dan tidak tahu wajahnya seperti apa. Tapi saya mengenal lewat tulisan-tulisannya di sebuah blog pribadi yang enak dibaca. Waktu masih kuliah di Bandung saya rutin mengunjungi blognya. Sempat beberapa bulan tidak ditengok, dan sekarang mulai rajin lagi berkunjung.
Siapa pun, atau setidaknya menurut saya, dengan membaca tulisannya, kita dapat merasakan bahwa hidup Atta memang layak untuk dirayakan. Hidup yang manis dengan persahabatan, cinta, dan hasrat menulis. Dalam tulisannya, Atta selalu bisa memotret harmoni bentang alam, ironi manusia, cinta tak terlihat, dan perayaan menikmati hidup dengan cara yang sederhana.

Baca lebih lanjut