Arus Balik; Tentang Kehilangan Anak

“Kamu dari mana saja Benjamin?!, bikin aku cemas seharian!!” kata Queenie sambil terisak. Adalah Benjamin kecil yang terperangkap dalam tubuh tua, baru sampai rumah setelah main seharian dan tertinggal trem. Tangannya berdarah karena pegangan pada tongkat yang menyangga tubuh ringkihnya. Mata tua itu memancarkan penyesalan dan sedikit takut. Sementara Queenie—ibu angkatnya yang merawat dia sejak dari bayi—, sambil membersihkan tangan Benjamin yang berdarah, terisak dengan nafas yang penuh dengan kekhawatiran sekaligus lega karena anak ringkih itu telah kembali pulang. Scene sederhana seperti ini terasa begitu keren dan menyentuh.

Tak banyak film—maksudnya jam terbang saya masih rendah—yang berhasil memotret sisi humanis terdalam ketika orangtua kehilangan anak-anaknya. Sejauh ini, sejauh minat saya kepada film, hanya beberapa saja yang berhasil melakukannya. Selain The Curious Case of Benjamin Button yang gemilang, ada juga Changeling yang dibintangi Angelia Jolie. Film besutan Clint Eastwood ini bercerita tentang bagaimana cemas, khawatir, dan sedihnya seorang ibu yang anaknya hilang karena diculik. Jangan berpikir tentang Jolie di Original Sin, karena kali ini dia tampil dengan cemerlang.

benjamin buttonTragedi kehilangan anak, dalam berbagai bentuknya, selalu menyisakan sebuah trauma, atau setidaknya rasa kehilangan yang dalam kata-kata Chairil Anwar; menekan mendesak. Bagaimana tidak, anak yang dibesarkan dengan darah, air mata, dan ruh itu tiba-tiba harus menghilang dan mungkin tak akan pernah kembali lagi. Seperti hari-hari sekarang ini, ketika reformasi telah berjalan lebih dari satu dasawarsa, titik terang masih belum juga datang bagi para orangtua yang anak-anaknya hilang di sekitar pusaran runtuhnya rezim orde baru.

Jika serpihan tragedi 1998 itu terkesan terlalu hiperbola untuk menggambarkan sisi humanis antara orangtua dan anak, maka lihatlah apa yang baru saja terjadi; Arus balik. Ketika godaan untuk membalikkan nasib jauh dari kampung halaman, maka bersiaplah dengan arus deras urbanisasi. Ini memang persoalan klasik, bahkan dari sebelum saya lahir barangkali. Tapi pernahkah kita membayangkan tentang detik-detik perpisahan itu?. Tentang ibu yang berdiri di pintu, dan anaknya—dengan perbekalan yang kadang-kadang melihatnya saja kita sudah tahu bahwa dia dari kampung—berjalan tanpa gegas, perlahan meninggalkan tanah halaman. Mereka, ibu dan anak itu, tidak pernah tahu, apakah mereka akan bertemu lagi atau malah sebaliknya. Mungkin perhitungannya sederhana, bahwa nanti ketika lebaran tiba mereka akan merayakannya bersama-sama. Tapi tak seorang pun tahu tentang hari esok.

Seorang kawan pernah berkata : “Satu-satunya yang saya ingat ketika bertemu adalah perpisahan.” Ini sebuah pamafrasa pesimis, atau pengkondisian yang terburu-buru. Bahwa kenyataannya perpisahan itu ada memang benar, tapi memikirkan hal pahit yang sudah kita ketahui adalah semacam menyiksa diri sendiri. Maka di seluruh jenak hidup yang kita lewati, yang orangtua dan anak lalui, perpisahan itu selalu ada, kehilangan itu selalu menyertai.

Arus balik sebagai sebuah peristiwa sosial tentu sudah kenyang oleh analisa, pendapat, dan wacana solusi para akedemis dan birokrat. Tema itu tak jauh dari persoalan sosial yang banal dan terkesan—karena terlalu sering—miskin dramatik. Maka tak heran jika kacamata media pun jarang yang beranjak dari sudut pandang fenomena sosial yang itu-itu saja. Padahal, jika mau melihat ke sisi yang lain, arus balik adalah saat ketika para orangtua kehilangan anak-anaknya. Obsesi tentang nasib yang lebih baik dan meningkatkan strata sosial telah mengguncang lembaga yang bernama keluarga. Ini tidak akan terlalu berlaku bagi mereka yang “lancar-lancar saja”, tapi pada beberapa gelintir orangtua yang anaknya mengalami nasib yang getir, terasa sekali bahwa arus balik yang membawa anaknya pergi ke kota telah dengan jitu memberikan password untuk membuka katup luka yang bernama kehilangan. Meratapi memang bukan jalan terbaik, tapi andai saja ada sepotong photo usang seperti gambar di atas (Benjamin yang bermain patung tentara kecil), maka kehilangan adalah nasib terburuk yang paling melankolik. Tapi seperti juga kata Benjamin, bahwa ketika takdir telah berakhir maka yang bisa kita lakukan adalah membiarkannya berlalu.

Ya, lagi-lagi, film telah memberikan sebuah narasi indah tentang bagaimana menyikapi kehidupan yang medannya seringkali sulit diprediksi; Arus Balik, itulah salahsatunya. [ ]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s