Merantau; Menemukan Jalan Pulang

Perantau, pengembara, pencari kehidupan adalah orang-orang yang hakikatnya punya kesamaan. Jauh dari sanak dan handai tolan yang melahirkan dan membesarkan kita. Perkara kita jadi apa di tanah rantau, itu soal lain. Bagi saya, meski cuma dari Bogor ke Jakarta, pulang seminggu atau dua minggu sekali tetaplah disebut merantau. Alasannya sederhana, tak menyelami lagi keseharian kampung halaman. Minggu ini si anu masih ingusan, eh tahu-tahu begitu pulang sudah gendong anak yang ingusan. Baru minggu lalu ngobrol soal Piala Dunia sama si A, eh tahu-tahu sudah memperebutkan Piala Akhirat di alam sana.

***

Seperti baru kemarin sore rasanya, sang ibunda menitipkan salam kepada anaknya dengan suara lirih. “Gimana kabar Kang Ayi?”, “Betah enggak dia?”, “Nitip ya? Jaga baik-baik nama keluarga dan kampung”.

Baru beberapa bulan merantau, si anak sudah jarang pulang.

“Ingin menenangkan diri dulu,” ujar Ayi di satu kesempatan. Jadilah saya sebagai pengantar pesan antara orang tua dan anak ini. Tahun 2004, lalu lintas komunikasi tak semudah seperti sekarang. Maka setiap saya pulang, pertanyaan-pertanyaan sang ibu terus berulang, selain beberapa lembar rupiah yang dititip si anak.

Jauh sebelum merantau, Ayi adalah seorang pengangguran kelas berat. Pagi, siang, sore, malam tak ada pekerjaan tetap yang dilakoninya, selain sesekali mengambil rumput di kebun bapaknya. Itupun jika bapaknya tidak sakit-sakitan. Di sisi lain, ia adalah seorang santri jebolan salah satu pesantren terkenal. Di kampung kami, jebolan pesantren bisa dikatakan sebagai anak shaleh dan punya kelas tersendiri dalam strata sosial. Secara dadakan, jebolan pesantren bisa diangkat sebagai pemimpin tahlilan, yasinan, shalawatan, dan ritus-ritus lainnya.

Saya dihadapakan kepada dua pilihan sulit saat kedua orangtuanya memohon agar mengajak Ayi merantau ke Jakarta saja. Padahal saya tahu, Ayi saat itu sudah bisa mencari uang sendiri menjadi tukang ojek. Namun tersiar kabar, dia menjadi pemabuk karena pergaulannya di jalanan. Orang-orang kampung kecewa, secepat mereka menyanjungnya dulu sebagai anak jebolan pesantren. Kegetiran dan ironi hidup ibarat dua sisi mata uang. Di sisi lain, bapak Ayi divonis terkena radang paru. Saya pun nekad mengajak anak ini ke Jakarta. Saya ingat betul saat mengantarnya, anak ini masih mengoceh dan ngelantur tidak jelas dalam angkutan umum. Efek alkohol ternyata membawa dampak fisiologi.

Sepuluh tahun berlalu, Ayi kini masih di tempat kerja yang sama. Badannya sehat dan bugar. Ia adalah karyawan yang punya jabatan penting. Seorang istri dan buah hati nan mungil pun dimilikinya dalam balutan doa semesta. Masa lalu bagi Ayi adalah pelajaran kehidupan, guru sejati.  Dan itu, melebihi pelajaran-pelajaran yang ia temui di sekolah dan pesantrennya.

Di atas pusara kedua orangtua Ayi, saya merenung tentang makna hidup. Teruslah merantau, Yi.

Iklan

3 thoughts on “Merantau; Menemukan Jalan Pulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s