Atambua 39 Derajat Celcius : Gejolak Personal Pasca Referendum

at5Sekali ini matilah segala slogan dan jargon yang berbunyi : Support your local films. Kenyataannya film “Atambua 39 Derajat Celcius” mati kutu. Tak lebih dari sepekan, film yang rilis tahun 2012 ini, secara serentak di seluruh jaringan 21 dan XXI; turun layar! Hal ini mungkin pernah dialami juga oleh film “Rayya; Cahaya di atas Cahaya”, tapi kalau saja siang itu kawan ikut dengan saya pergi ke Kelapa Gading, maka saya tidak akan duduk sendirian di ruangan gelap berpendingin.
Mulanya diketahui ketika membeli tiket di loket. “Belum putar mas, sebentar lagi,” begitu kata si mbak penjual tiket, padahal sudah lewat lima menit dari jadwal yang tertulis. “Mau duduk di mana mas?,” dan lihatlah belum ada satu pun kursi yang berwarna merah, artinya belum satu pun tiket yang terjual.

Baca lebih lanjut

Iklan

Pede Banget Sih, Bwoo!

Generasi…generasi sekarang. Generasi sekarang ugal-ugalan. Ditindik-tindik badan pentolan, persis preman yang ada di Ragunan.

Senandung tiga anak usia belasan tahun menghibur beberapa orang yang sedang menikmati malam di bawah sebuah fly over. Satu orang memainkan perkusi. Satu lagi memainkan ukulele. Sedangkan satu anak lagi bertugas sebagai vokalis seraya memainkan kecrekan. Beberapa lirik sosial keluar dari tiga anak ini seakan mewakili hari penat yang tengah berlabuh.

Jakarta malam tengah bersolek. Meski sudah larut, Jakarta tak pernah tidur. Di seberang sebuah hotel mewah, kolong fly over ini berubah menjadi surga. Pedagang nasi goreng, soto, pecel, warkop, mie rebus, penjual pulsa, hingga penjual nasi padang. Mereka berbaur, berkelindan saling menopang hidup. Kepulan asap dan gelak tawa makin menambah irama malam yang terus berdendang. Baca lebih lanjut

Quantum

Kecemasan saya mungkin beralasan, sebab usia sudah tidak muda lagi, sudah melewati angka 25. Sementara saingan adalah mereka yang baru saja lulus dari SMA. Ilmu mereka masih hangat, seumpama pisang goreng yang baru diangkat dari wajan, dan mereka jumlahnya ribuan. Di wajah mereka terpancar semangat yang berkobar untuk meraih masadepan gilang gemilang.
Tapi saya tak boleh surut, dengan langkah yang dikuat-kuatkan serta mengucapkan “Basmillah”, saya dekati gedung tempat ujian itu. Pensil 2B bermerek Faber Castel, alas triplek untuk menulis yang dilengkapi penjepit kertas, dan kartu ujian sudah disiapkan. Baju serta celana sudah rapi dan licin karena disetrika, sepatu hitam sudah disemir sejak dari subuh. Ketika menginjak gerbang di pintu masuk gedung, dada terasa sesak, saya bergetar; bauran antara kecemasan akan kompetisi dan rasa haru yang mencucuk, haru bahwa saya masih bisa mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri, dan masih berpeluang menginjakkan kaki di kampus yang dari dulu selalu gagal saya taklukkan.

Baca lebih lanjut

Merdeka Bersama Wadjda

Wadjda, gadis cilik berusia belasan tahun ini bermimpi punya sepeda. Ini didasari karena tingkah teman bermainnya, Abdullah, yang suka meledek dan mengganggunya. “Lihat saja kalau aku punya sepeda nanti.”

Sayangnya, hukum dan adat Arab Saudi melarang perempuan untuk menggunakan sepeda di ruang publik. Dalam beberapa kesempatan ia sering dimarahi keluarga dan gurunya karena keinginannya yang konyol itu. Setiap pulang sekolah ia melewati toko sepeda dan selalu menitipkan pesan kepada penjaga toko agar sepeda impiannya jgn dijual ke org lain, “Titip sepeda ini untukku”. Di lingkungan sekolah, Wadjda mulai mengumpulkan uang sendiri. Menjual aneka aksesori atau menjadi penyedia jasa pengantar surat. Pihak sekolah sempat mengancam mengeluarkannya karena ketahuan membawa barang jualan. Masalah semakin rumit karena kedua orang tuanya mengalami masalah pernikahan.

Kesempatan baik datang. Pihak sekolah mengadakan lomba hafidz Al-Quran. Dilematis bagi Wadjda karena uang yang dikumpulkan hampir mendekati harga sepeda 800 riyal. Baca lebih lanjut

Nasib Kata

Pada peringatan 100 tahun Albert Camus beberapa waktu ke belakang, di linimasa jejaring sosial tiba-tiba ramai dengan kata “flaneur”. Flaneur adalah bahasa Prancis yang artinya terkait dengan orang yang suka jalan-jalan, keluyuran di dalam sebuah kota tanpa tujuan yang begitu pasti. Camus adalah seorang flaneur, ini diperkuat dengan banyaknya foto dia yang diambil di ruang terbuka; trotoar, misalnya. Seseorang menulis di twitter untuk mempermudah memahami arti kata flaneur dengan mengutip puisi Chairil Anwar :

Flaneur, pengeluyur mana-suka, pelancong iseng. Mereka pasti ngeh dengan baris dari Chairil ini : “Waktu jalan, aku tidak tahu apa nasib waktu.”

Ihwal kenapa Camus begitu ramai dibicarakan di linimasa jejaring sosial di Indonesia, barangkali tidak cukup mengagetkan, setidaknya jika membaca kembali sebuah tulisan Goenawan Mohamad (selanjutnya ditulis GM) yang terhimpun di buku Setelah Revolusi Tak Ada Lagi. GM menulis bahwa ketika Asrul Sani pada tahun 1950-an berkunjung ke Eropa, dia menulis sepucuk surat yang kemudian dimuat di sebuah majalah kebudayaan di Indonesia tentang apa yang dialaminya. Dalam surat itu Asrul Sani menyebut Camus, dia terpikat dengan pemikirannya. Beberapa waktu kemudian Asrul Sani menerjemahkan sebuah lakon karya Camus : Caligula. Selain itu, La Paste, novel Camus, terbit di tahun 1984 yang diterjemahkan oleh Nh. Dini, salah seorang sastrawan Indonesia.

Flaneur , hanyalah sisi lain dari Camus, atau barangkali sisi lain yang hanya diperbincangan di Indonesia. Tapi ada yang menarik, setidaknya dalam imajinasi saya; jika linimasa diibaratkan kota, dan kata adalah manusia, kira-kira bagaimana nasib Kata (dengan ‘K’ besar)?. Baca lebih lanjut