Sembuh dari Sunyi

Sebenarnya saya tidak ingin menjadi hipster dengan mengutip sepotong lagu Dewa, justeru ketika Dhani sedang direcoki khalayak sosial media untuk menunaikan “janjinya”. Sengaja saya kasih tanda kutip sebab ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa sesumbar Dhani itu hanyalah hasil kreasi moda ranah editan. Namun begitulah, akhirnya saya kutip juga liriknya :

Di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu

Kalimat paradoks tersebut menguar menembus station kereta api, terminal bus, bandara, pelabuhan, dan jalanan jahanam yang kerap memakan para pengendara roda dua. Mudik telah berdiri di tubir titik didihnya yang paling riuh; berbondong-bondong dan dirayakan. Jika sejengkal dari kata “mudik” ada pertanyaan, maka saya hendak menawarkan; “demi apa mudik itu?”

Dari kuliah subuh di mesjid kampung ternyata jawabannya tidak rumit, agama menyediakan kata “silaturahim”. Dan kata tersebut tak main-main faedahnya, katanya dapat memperpanjang usia dan meluaskan rejeki. Namun saya tak hendak berjejak di ranah ini. Ada setapak lain yang coba saya catatkan.

Penulis yang menemukan lampu sorot pada aksaranya agak terlambat tak seperti pada karir musiknya, sempat mengurai sesuatu dengan manis. Pada “Spasi”, Dee menulis begini :

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang jika ada ruang?

Anggaplah kita setuju dengan Dee, maka mudik dengan segala kesemramutan dan pesta niaga para pemilik korporat, sejatinya adalah hendak menuai kasih sayang dari para pemberani yang telah merelakan dirinya berjarak, yang pada hidupnya telah mengikhlaskan ada ruang antara satu titik dengan titik yang lain. Antara dirinya dengan kampung halaman. Bila ruang itu bernama rindu, maka mudik adalah hajat sosial yang massal demi melabuhkan rindu yang selama setahun menggantung entah di mana.

Kita tahu bahwa mudik ialah sebuah gerak meninggalkan kota yang dengan segala kemajuannya adalah tempat yang ramai, riuh, sekaligus berisik. Namun naluri kembali ke kampung selalu tak terbendung. Kota yang menawarkan gemerlap, di titik ini hanyalah sebuah paradox; keramaian yang sepi. Sebagian orang mungkin berpendapat, bahwa kesunyian yang mencekik bukanlah dari yang nampak, tapi bersemayam di tempat yang dalam dan tersembunyi. Dia virtual, perubahan cuaca terjadi di langit jiwa.

Sekali waktu penyair Joko Pinurbo pernah menulis sekerat puisi :

Kamu adalah jalan menuju sembunyi, sembuh dari sunyi

Di titian kecemasan manusia yang berparade, kata “Kamu” pada puisi tersebut bisa bermakna Tuhan, Kekasih, Kawan, atau apa pun. Namun pada mudik, “Kamu” di sini berarti kampung halaman, tempat mula-mula ari-ari ditadah, yang kerap berhasil melarung rindu sekaligus membebaskan diri dari sunyi kehidupan kota yang mencekik. [ ]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s