Lebaran dan Pulang

bulan_ilustrasi

Satu sore di tahun 1954, Sitor Situmorang mendapati sebuah pemandangan yang menakjubkan. Usai pulang dari rumah Pramoedya Ananta Toer, ia melewati sebuah pekuburan Eropa. Dilihatnya rembulan yang memantul melalui sela pepohonan tua nan rimbun. Pemandangan itu kemudian melahirkan sebuah karya yang fenomenal lewat sebuah sajak berjudul Malam Lebaran. Isi sajak ini sangat pendek, hanya beberapa kata saja:

bulan di atas kuburan

Dalam pengakuannya, saat itu Sitor ingin bersilaturahmi karena masih suasana Lebaran. Pulangnya, ia kehilangan arah sembari dihinggapi rasa kecewa karena Pram tidak ada di rumah. Melewati jalan berkelok dan licin, tibalah di sebuah pekuburan tersebut. Maka saat ia melihat cahaya bulan itu, seakan menemukan jalan pulang yang sesungguhnya. Baca lebih lanjut

Sembuh dari Sunyi

Sebenarnya saya tidak ingin menjadi hipster dengan mengutip sepotong lagu Dewa, justeru ketika Dhani sedang direcoki khalayak sosial media untuk menunaikan “janjinya”. Sengaja saya kasih tanda kutip sebab ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa sesumbar Dhani itu hanyalah hasil kreasi moda ranah editan. Namun begitulah, akhirnya saya kutip juga liriknya :

Di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu

Kalimat paradoks tersebut menguar menembus station kereta api, terminal bus, bandara, pelabuhan, dan jalanan jahanam yang kerap memakan para pengendara roda dua. Mudik telah berdiri di tubir titik didihnya yang paling riuh; berbondong-bondong dan dirayakan. Jika sejengkal dari kata “mudik” ada pertanyaan, maka saya hendak menawarkan; “demi apa mudik itu?”

Dari kuliah subuh di mesjid kampung ternyata jawabannya tidak rumit, agama menyediakan kata “silaturahim”. Dan kata tersebut tak main-main faedahnya, katanya dapat memperpanjang usia dan meluaskan rejeki. Namun saya tak hendak berjejak di ranah ini. Ada setapak lain yang coba saya catatkan. Baca lebih lanjut

Salvador Allende

klandestin di ChileBeberapa minggu sebelum pemungutan suara pilpres di tanah air digelar, sempat juga saya membaca buku yang ditulis oleh peraih hadiah Nobel Sastra tahun 1982 dari Kolombia; Gabriel Garcia Marquez. Sebetulnya buku tersebut berkisah tentang petualangan klasdestin seorang sutradara film yang menembus jantung pemerintahan diktator Jenderal Augusto Pinochet di Chile dengan maksud mengolok-olok, namun ada satu fragmen yang membuat saya tercenung, yaitu bagaimana ingatan kolektif masyarakat begitu kuat menempel dalam kehidupan sehari-hari tentang pemimpin yang dicintainya.

Tanpa dimaksudkan untuk mencari referensi ihwal presiden ideal, atau bergenit dengan niat menggembosi salah satu calon presiden, pembacaan pada buku tersebut mulanya murni karena cara berkisahnya yang menawan. Baca lebih lanjut

Postulat Keseimbangan

Di bulan Juni-Juli ini setidaknya ada sekira empat peristiwa besar yang nyangkut di ruang informasi dan emosi kita. Dari Piala Dunia, Pilpres, serangan ke Gaza, sampai Bulan Puasa. Tentu setiap orang berbeda-beda ihwal mana yang hanya sebatas informasi, dan mana yang mula-mula hanya informasi tapi kemudian dibarengi dengan emosi. Pada kedua sikap itu hampir selalu ada gemuruh, entah hanya sebatas komentar alakadarnya, ataupun respon hiperbola yang meluap-luap. Di seluruh gorong-gorong media, empat peristiwa tersebut berparade di titian waktu pemirsa; menggelontorkan informasi, basa-basi, rayuan-rayuan niaga, sampai dusta terang-terangan. Di tengah keramaian itu, jika saya tak silap, ada beberapa potong mozaik yang bila disatukan akan menerbitkan dugaan tentang kebenaran yang remang-remang.

Saya sempat menyangka bahwa Piala Dunia 2014 akan menjelma menjadi semacam pesta bangsa tiran. Dominasi yang keterlaluan. Bagaimana tidak, Brazil yang sudah menempelkan lima gambar bintang di atas logo federasi sepakbolanya, masih juga hendak menambahnya dengan jalan yang hampir sempurna. Bertindak selaku tuan rumah, memiliki skuad yang rata-rata merumput di seantero liga-liga nomor wahid, terbiasa dengan cuaca tropis, dan berada di group yang tidak terlalu berbahaya, membuat Brazil seolah tinggal selangkah menempelkan gambar bintang yang ke enam. Pada fase group, penonton televisi yang tak senang kepada timnas Brazil mungkin melihat wajah-wajah supporter tuan rumah begitu yakin dan sekaligus menyebalkan. Mereka begitu jumawa. Inilah konco-konco kesebelasan tiran. Baca lebih lanjut

A Short Story from Angkot yang Ngetem

Setelah turun dari commuter line, saya berjalan kaki menuju angkot yang ngetem di ujung jalan. Beberapa angkot berbaris tak rapi. Karena memang tidak dipersiapkan untuk itu. Terdengar suara riuh beberapa orang di dekat pintu sopir pada angkot yang parkir paling belakang.

Saya berjalan mendekat ke angkot tersebut. Dan memilih  duduk di jok depan, samping sopir. Kebetulan angkotnya masih belum ada penumpang. Jadinya saya bebas memilih, dong. Lalu, secara terpaksa, saya pun mendengar pembicaraan sopir angkot ini dengan teman-temannya (yang diduga sopir juga).

Satu sama lain saling menyahut cepat. Terdengar heboh dan seru. Sepenangkapan saya, mereka sedang bercerita tentang seorang ibu yang melahirkan dalam angkot yang sedang berjalan. Hm, kira-kira begini… Baca lebih lanjut