Pekerjaan Itu Musuh, Sekaligus Teman Baik.

Bangun jauh lebih awal pagi ini. Sangat jarang terjadi di hari kerja. Gamang sesaat, kopi belum lagi terhidang. Akhirnya saya putuskan untuk tidak beranjak.

Keputusan yang jadi seperti mosi. Mosi protes terhadap diri saya sendiri, terhadap semua pekerjaan saya, kenapa semua begitu menyita waktu dan pikiran. Yang paling kuat berteriak adalah sisi diri saya yang begitu merasa dirugikan karena semua itu telah menjauhkan saya dari orang-orang yang saya cintai. Menjauhkan saya dari teman-teman yang begitu saya hargai, bahkan menciptakan musuh bagi diri saya. Ironis, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, sesuatu yang mungkin adalah kebalikannya yang menjadi visi dalam pekerjaan pada awalnya. Terlebih untuk orang yang seperti saya, bekerja disini dan harus meninggalkan anak istri di seberang sana, sedikit sekali dan berharga sekali waktu untuk berkumpul. Baca lebih lanjut

Saya Rindu Orde Baru!

Belakangan ada hal menjenuhkan, kalau tak mau dibilang memuakkan, hampir semua orang membicarakan politik di akun media sosial. Setiap buka timeline, hampir sebagian pengguna membahas calon presiden jagoannya.  Sebetulnya menggembirakan, karena iklim demokrasi yang disombong-sombongkan itu ternyata sukses menonjolkan satu poin utamanya; bebas mengeluarkan pendapat. Sayangnya pendapat yang tidak wajar, bukan pendidikan politik yang mencerahkan. Siapa saja merasa berhak membuka aib lawan dari calon jagoannya, mengebiri satu suara untuk memengaruhi orang lain, bahkan tak sedikit ada yang berseteru dengan teman sendiri akibat beda pilihan calon presiden.

Tentu kita tidak bisa menyalahkan begitu saja pengguna media sosial. Media massa, cetak maupun elektronik, jelas punya peran besar membentuk sebuah hubungan personal antara calon presiden dengan calon pemilih. Baca lebih lanjut