Lonceng Kematian Toko Buku

Sekira empat tahun yang lalu, di jalan Sumur Batu, persis di sebelah jembatan terdapat kios buku. Tapi kini sudah berganti menjadi warteg.

Mbak penjaga kios itu sering terlihat terkantuk-kantuk. Pengunjung sepi. Seringkali saya dapati, hanya saya sendiri yang tengah melihat-lihat buku yang berjajar memenuhi rak. Saya membeli beberapa buku dakwah dan pergerakan Islam di sana. Dalam benak sering bertanya-tanya, “dengan pengunjung yang sangat minimal, apakah kios buku ini bisa bertahan lama?” Lalu empat bulan setelah itu, kios buku tutup. Dan empat hari setelahnya, buku berganti dengan menu makan sehari-hari.

Alangkah cepat aksara terenggut dari lalu-lintas ekonomi. Saya sedikit menyesali kematian kios buku ini. Namun kenyaatan tak bisa dipungkiri, orang-orang masih lebih membutuhkan makanan daripada sebuhul imajinasi. Setidaknya di jalan Sumur Batu. Baca lebih lanjut

Iklan

Warna Warni Hidup dari Kepulan Asap

“Pukul tujuh, Bang! Saya segera tiba di lokasi,” ujar bapak paruh baya di halte Trans Jakarta. Perlahan malam pun beranjak. Antrian manusia Jakarta masih menumpuk. Sarana yang ditunggu sebagai pengantar pulang belum tiba. Bapak-bapak tadi lalu melongos meninggalkan halte.

Saya perhatikan dari jauh, ia sedikit mengumpat kepada petugas. Lalu berjalan sambil merogoh sesuatu dalam kantong bajunya. Sebuah telepon genggam lalu dimainkannya. Masih dalam jembatan halte, kepulan asap rokok kemudian terlihat dari mulutnya.

Saya membayangkan ia sedang terburu-buru dengan sebuah perjalanan. Mungkin saja ia sedang ada janji yang begitu penting dengan seseorang. Mungkin saja ada keluarganya yang sakit, atau ada transaksi yang akan mengantarkan keluarga bapak itu mencapai sebuah impian. Baca lebih lanjut