Belajar Dari Kepemimpinan Captain Philips

Richard Philips (diperankan oleh Tom Hanks), pria berusia 50 tahunan yang bekerja sebagai captain di kapal cargo Maersk Alabama. Seorang pria minim ekspresi, praktis, berjanggut abu, mantan supir taksi di Boston, memiliki seorang istri dan dua anak menjelang usia kuliah. Pada 7 April 2009 membawa 17.000 metrik ton kargo , dan 5.000 metrik ton barang-barang bantuan menuju Kenya, Somalia, dan Uganda. Kapal tersebut berangkat Oman menuju Mombasa (kenya) dan mau tidak mau harus melewati Teluk Aden Somalia dimana tempat tersebut terkenal akan pembajak-pembajak laut somalia.

Kemiskinan dan perang saudara adalah faktor utama kenapa pembajakan di laut somalia ini marak. Nelayan-nelayan yang biasa menangkap ikan terpaksa mengacungkan senjata demi mendapat sejumlah uang. Mereka dipaksa membajak kapal kapal asing yang melintas dan menyetor hasil rampasan kepada bos-bos pemberontak yang memiliki akses senjata dan militer di Somalia. Ketidakstabilan politik dan rezim penguasa menghasilkan generasi generasi pembajak bengis di Somalia.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini membawa kita pada dimensi yang bersebrangan, kapitalisme negara negara maju dan kemiskinan negara dunia ketiga. Ini seperti perang idealisme dalam bentuk mini dimana si miskin menuntut haknya kepada si kaya. Bahwa si kaya harus membayar upeti ketika mereka melewati wilayah si miskin.

Tom Hank menjadi lebih manusiawi di film ini dibanding perannya saat di film Cast Away, saya pikir ini peran terbaiknya setelah forrest gump. Alur yang disuguhkan Paul Greengrass sang sutradara pun tidak terburu-buru, tidak banyak action dan desing peluru. Greengrass berhasil membuat film ini seperti film Thriller lamban, tapi mampu membuat ketegangan dari awal sampe akhir. Lepas dari aksi kejar-kejaran yang dramatis dan juga kehebatan akting Tom Hanks, nampaknya kita patut belajar dari kepemimpinan sang aktor utama Captain Philips. Dalam perannya yang memukau sebagai Captain Philips, Hanks berhasil menunjukkan pada kita semua bagaimana caranya menjadi pemimpin yang baik.

Sebelum perjalanan melewati laut Somalia, Philips sadar ia akan melewati daerah berbahaya, karena itu ia mengecek semua detail di Kapal, mencari jalur teraman, mengunci semua pintu yang memungkinkan masuknya para perompak, dan juga mempersiapkan para kru nya dalam menghadapi keadaan terburuk. Pemimpin harus selalu punya perencanaan dan siap saat menghadapi segala kondisi terburuk.

Sebagai nakhoda kapal, Philips menunjukkan pada kita akan pentingnya sensitifitas dan keputusan yang tepat saat situasi buruk menimpa. Saat ada dua kapal yang mendekat, ia sadar bahwa itu bukan kapal nelayan biasa, karena itu ia mengirimkan tanda bahaya ke otoritas yang berwenang. Philips juga mengecoh perompak seolah olah dia sedang berbicara dengan angkatan laut Amerika yang siap menembak para perompak. Tipuan itu berhasil membuat perompak mundur sementara. Philips pun melakukan perlawanan dengan menembakkan flare ke arah perompak saat mereka mencoba naik kapal. Dengan sumber daya terbatas dan tanpa senjata, Philips berhasil membuat sulit para perompak.

Setelah perompak berada di kapal ini menjadi sebuah adegan yang dramatis. Sebuah kisah tentang kapal dengan dua kapten. Negosiasi menjadi hal yang dicontohkan Philips, ia biarkan sang perompak menjadi Captain tapi kendali tetap padanya. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban dari kru kapal. Konfrontasi antara Philips dan pemimpin perompak bernama Muse (yang diperankan sangat baik oleh pendatang baru Barkhad Abdi) sangat alot dan memukau, ” Lihatlah mataku – aku kapten sekarang ” Seloroh Muse. Perebutan kekuasaan antara kedua orang ini menjadi simbol dari luasnya tema film yang menggambarkan cross culture, keduanya digambarkan sebagai pion dalam permainan catur yang jauh lebih besar di mana satu sama lain tidak memiliki kontrol apapun. Di bagian ini kita belajar tentang kemampuan negosiasi dan ketenangan seorang pemimpin.

Dalam film inipun kita bisa belajar tentang pentingnya sebuah Trust. Ada momen dimana para kru dalam kondisi down, Philips meyakinkan para kru bahwa mereka akan baik baik saja selama mengikuti arahannya. Philips juga mempercayakan ruang mesin kepada para kru nya agar sebisa mungkin tidak jatuh ke kekuasaan perompak. Ketika pemimpin dan anak buah sudah memiliki rasa saling percaya satu sama lain maka masalah seberat apapun bisa teratasi, hal ini dibuktikan dengan tidak jatuhnya ruang mesin ke tangan perompak. Sementara di pihak lain, para perompak tidak memiliki Trust satu sama lain, mereka saling curiga dan menganggap teman mereka sendiri sebagai musuh.

Sacrifice and Hope. Di bagian akhir film Philips mengajarkan kita akan sebuah pengorbanan dan pengharapan. Ia rela menjadi sandera asalkan para krunya selamat. Namun dalam keadaan serba sulit menjadi tawanan perompak dan terombang ambing dalam sekoci sempit, ia tetap berharap bisa pulang dengan selamat, berkumpul kembali dengan keluarganya. Philips menunjukkan dirinya adalah seorang pahlawan yang jujur, penuh ​​keberanian yang terjebak di sebuah kondisi dimana keputusasaan bukanlah sebuah pilihan.Pemimpin yang baik memang harus rela berkorban bagi yang dipimpinnya, ia juga tak boleh putus asa dalam setiap keadaan sulit. Apalah artinya manusia tanpa harapan.

Mungkin apa yang saya lihat dari Captain Philips terlalu berlebihan, mungkin saja pada kenyataannya dia tidak sehebat itu. Philips tetaplah manusia normal, ia juga bisa shock dan menangis saat diselamatkan Angkatan Laut. Tapi apa salahnya kita mengambil pelajaran dari film inspiratif ini. Negara ini harus diakui minim suri tauladan, para penguasanya sibuk memperkaya diri. Buat saya film ini sangatlah bagus, film yang mampu membuat perenungan setelah menonton. Semoga para calon pemimpin dan calon wakil rakyat menonton film ini. Semoga kita dipimpin oleh para Philips, atau kita sendiri yang menjadi Captain Philips baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s