Nguping Kanan Nguping Kiri

Adakah suatu aturan dalam hukum alam yang menentukan segala sesuatu dapat terjadi dan apa yang tidak dapat terjadi? Mungkin ini pertanyaan konyol. Meski demikian, jawabannya cukup sederhana, sejak seorang genius Josiah Williard Gibbs menguraikannya di penghujung abad kesembilan belas. Jawabnya adalah bahwa di manapun di alam semesta terdapat keseimbangan antara dua kualitas mendasar manusia.Pertama adalah energi, yang barangkali sudah kita pahami, dan kedua adalah entropi, yang barangkali belum kita pahami, namun suatu hari akan kita pahami. Keseimbangan ini pun memadai untuk menentukan apakah sesuatu dapat atau tidak dapat terjadi.

Beberapa hal tertentu dapat terjadi dengan sendirinya, tetapi semua itu tidak dapat berlangsung ke arah berlawanan kecuali mendapatkan bantuan dari luar. Sebagai contoh, kita dapat mendapatkan air naik ke tempat lebih tinggi dengan cara mengangkut atau memompanya ke atas. Dan jika memungkinkan, kita dapat mengambil kembali gula yang terlanjur masuk ke dalam secangkir kopi dengan menguapkan airnya kemudian secara kimia memisahkan gula dari padatan kopi. Juga kita dapat mengembalikan korek api yang telah dinyalakan kembali ke keadaaan semula meskipun sangat sulit. Tetapi asal waktu dan peralatannya tersedia, ilmuwan dapat merekontruksinya dari abu, asap, dan gas.

Begitu pula dengan sebuah kelucuan yang bisa terjadi dengan sendirinya, maupun dengan adanya bantuan dari luar. Jakarta yang kompleks ternyata banyak melahirkan hal absurd melalui obrolan sehari-hari. Kita bisa mendengar percakapan lucu di kantor-kantor, di toko baju, di sekolahan, di gang sempit, di metromini, maupun di warung-warung makan. Coba simak obrolan ini:

Petugas TransJakarta: “Mas, bisa tolong kasih bangkunya ke ibu ini? Kasian lagi hamil.”

Ibu berukuran cukup besar: (tersinggung) “Pak, saya gak hamil.”

Obrolan di atas terjadi secara spontanitas. Tentu saja kita akan tersenyum simpul membayangkan ekspresi petugas TransJakarta yang tengsin atau si ibu berbadan tambun yang merasa tersinggung karena disangka hamil. Perhatikan juga obrolan lainnya di bawah ini:

Pembeli: “Bang, sate ciek.”

Abang Sate Padang: “……”

Pembeli: Bara Harganyo?”

Abang Sate Padang: “…..”

Pembeli: “Bang, kok, diem aja, sih?”

Abang Sate Padang: Ora iso ngomong Padang, Bu.”

nguping jakartaBagaimana dengan obrolan diatas ini? Apakah sebuah kesengajaan? Yang jelas, kelucuan ini sangat nyata dan ada di Jakarta. Terangkum dalam sebuah media buku dengan format kompilasi dialog yang dikirim oleh penguping yang ada di Jakarta. Dengan kuping kiri dan kuping kanan sebagai indera pendengaran, lalu diteruskan menjadi sebuah tulisan untuk dibagikan ke khalayak. Ya, tawa dan kelucuan memang pantas diterima setiap orang, siapa pun dia.

Buku “Nguping Jakarta” menjadi sebuah pengingat akan kehadiran orang-orang di sekitar kita dengan ragam kelucuannya. Jasa J. Willard Gibbs dalam kaitan ini adalah merancang dan menuliskan sebuah persamaan untuk keseimbangan energi-entropi.

Dan “Nguping Jakarta” adalah perpaduan keduanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s