Liong Houw Naik Darah

Melbourne, 1 Desember 1956

TEN IRON MEN HELD THE GOAL
If there was an olympic medal awarded for courage, tenacity, and refusal to admit inferiority, the THE INDONESIAN SOCCER TEAM would have won it hands down yesterday at Olympic park. They confounded the experts, amazed the spectators and worried the Russian team to a scoreless draw, even after extra time had been ordered.

It was the most fantastic soccer match i have ever seen.
The matched started with the full Russian attack which was repulsed by a dteremined 10-man defence in front of the indonesian goal

Tulisan di atas adalah kutipan dari surat kabar ARGUS yang ditulis oleh seorang wartawan Australia, Bill Flemming usai menyaksikan penampilan timnas Indonesia menahan timnas Uni Soviet tanpa gol pada tanggal 29 November 1956. Pertandingan yang menurut Pandit Football disebut sebagai folklore masa kejayaan sepak bola kita. Baca lebih lanjut

Belajar Dari Kepemimpinan Captain Philips

Richard Philips (diperankan oleh Tom Hanks), pria berusia 50 tahunan yang bekerja sebagai captain di kapal cargo Maersk Alabama. Seorang pria minim ekspresi, praktis, berjanggut abu, mantan supir taksi di Boston, memiliki seorang istri dan dua anak menjelang usia kuliah. Pada 7 April 2009 membawa 17.000 metrik ton kargo , dan 5.000 metrik ton barang-barang bantuan menuju Kenya, Somalia, dan Uganda. Kapal tersebut berangkat Oman menuju Mombasa (kenya) dan mau tidak mau harus melewati Teluk Aden Somalia dimana tempat tersebut terkenal akan pembajak-pembajak laut somalia.

Kemiskinan dan perang saudara adalah faktor utama kenapa pembajakan di laut somalia ini marak. Nelayan-nelayan yang biasa menangkap ikan terpaksa mengacungkan senjata demi mendapat sejumlah uang. Mereka dipaksa membajak kapal kapal asing yang melintas dan menyetor hasil rampasan kepada bos-bos pemberontak yang memiliki akses senjata dan militer di Somalia. Ketidakstabilan politik dan rezim penguasa menghasilkan generasi generasi pembajak bengis di Somalia. Baca lebih lanjut

Hanyut Bersama Sulak

Jakarta yang kini sedang sibuk mengatasi banjir adalah kota yang didirikan oleh para pemabuk. Mereka adalah raksasa berkulit bayi yang pada mulanya hanya singgah untuk mengisi air minum dan membeli arak. Ketika kemudian mereka membeli tanah kepada seorang pangeran, mereka mendirikan bangunan bercat putih dan memagarinya dengan meriam. Sempat terjadi beberapakali pertempuran demi memperebutkan kota tersebut, dan pemenangnya adalah para pemabuk itu. Namun tragis, karena penduduk kota kebanyakan jorok, pemimpin para pemabuk akhirnya tewas; bukan di medan pertempuran, namun karena sakit perut.

Cerita pembuka dalam kumpulan cerpen A.S. Laksana ini begitu menghayutkan. Kocak, tapi sekaligus sarat dengan muatan sejarah. Jika ditelusur, minimal di Wikipedia, cerita tersebut adalah sejarah Jan Pieterszoon Coen ketika mula-mula mendirikan Batavia. Sulak, begitu A.S. Laksana biasa disapa, bercerita dengan piawai dan menolak sama. Ketika buku kumpulan cerpennya gagal menjadi pemenang di Khatulistiwa Literary Award, banyak orang yang menyayangkan. Baca lebih lanjut

Memaknai Kentut di Jakarta

Kentut mungkin melanggar kesopanan, tapi dia juga sesungguhnya tidak dianjurkan untuk ditahan-tahan jika kita ingin tetap sehat. Jadi biarkan saja kentut berbunyi jika ingin tetap sehat. Menahan kentut hakikatnya melawan hukum alam. Lucu juga jika konflik kesopanan dan kesehatan akhirnya harus diatasi dengan kebohongan ala dagang sapi.

Maka tak heran, tokoh sekaliber Semar Badranaya menjadikan kentut sebagai senjata andalan untuk melawan musuhnya. Ia akan menggunakan senjatanya melawan para raja, resi, maupun ksatria bukan untuk mematikan, namun lebih untuk menyadarkan. Kentutnya bisa dikatakan sebagai senjata pamungkas, jika dengan cara biasa, ia gagal mengatasi masalah. Percis senjata nuklir yang diluncurkan tentara militer di saat-saat genting.
Baca lebih lanjut

Serigala itu bernama uang

I always wanted to be rich,” begitu seloroh Jordan Belfort (diperankan oleh Leonardo DiCaprio) ketika ditanya akan visi misinya. Menjadi kaya jauh lebih hebat daripada menjadi gangster, gangster bisa kita beli asalkan punya uang. Menjadi kaya adalah menjadi tuhan, persetan dengan semua omong kosong, dengan uang kebenaran bisa dibeli.

Selamat datang kembali di film Martin Scorsese, The Wolf of Wall Street, datang dengan hembusan kemarahan di punggungnya. Selama kurang lebih 50 tahun berkarir di perfilman, saya pikir film ini juga akan menjadi salah satu mahakarya buatannya. Seperti diketahui, film The Wolf of Wall Street merupakan proyek kelima Martin Scorsese bersama Leonardo DiCaprio. Sebelumnya, keduanya juga pernah bekerjasama lewat empat film lainnya seperti ‘Gangs of New York’, ‘The Aviator’, ‘The Departed’, hingga ‘Shutter Island’. Tapi kalau boleh berkata, lupakan ke empat film terdahulu, lupakan juga acting Leo di Titanic. Karena di film ini Leo benar benar menjadi seorang serigala, serigala pemilik uang, bukan si kere yang mencoba naik kapal mewah ke New York. Akting Leo di film ini ratusan kali lebih buas dari perannya di The Great Gatsby. Baca lebih lanjut