Misbar di Monas (Catatan JIFFest 2013)

Sejak edisi pertama pada tahun 1999, Jakarta International Film Festival (JIFFest) telah disambut dengan begitu antusias oleh masyarakat, khususnya warga Jakarta. Festival Film ini, yang kerap menampilkan film-film dari berbagai negara, menjadi semacam alternatif tontonan di tengah minimnya produksi film lokal (medio 1999, pertahun hanya ada empat film Indonesia yang tayang di bioskop), dan banyaknya film produksi Holywood yang sangat “popcorn”. Sampai penyelenggaraannya yang ke-12 di tahun 2010, JIFFest tetap menarik minak banyak penonton. Sempat terhenti di tahun 2011 dan 2012 karena masalah dana, JIFFest akhirnya berhasil diselenggarakan kembali di tahun 2013 dengan ada penambahan format yang lebih “merakyat”, yaitu dengan diadakannya open air cinema alias misbar (gerimis bubar), alias layar tancap yang diadakan di silang Monas.

Dari 20 film yang diputar, empat film di antaranya, yakni; Metro Manila, Korean Surprise Movie, National Security, dan Rurouni Kenshin, terpilih sebagai film yang diputar di silang Monas. Masyarakat yang hadir tidak hanya orang-orang yang melek  film dan para moviegoer saja, namun juga para penjual makanan dan minuman, penjual mainan anak, dan para pedagang kaki lima lainnya yang mangkal di sekitar Monas, juga ikut menyaksikan pemutaran film.

Setelah lebih dari sepuluh tahun hanya bisa dinikmati kalangan menengah-atas, pemutaran di silang Monas seperti sebuah keinsyafan, bahwa sesungguhnya selalu ada jalan bagi festival film yang bertitel ‘Internasional’ untuk bisa diakses oleh kalangan yang lebih luas. Karena seperti kata Riri Riza, “Sinema adalah medium yang dapat dengan efektif menangkap kegelisahan-kegelisahan manusia”, maka pertanyaannya; apakah kegelisahan-kegelisahan itu hanya bersarang di kelas menengah-atas saja?, tentu tidak. Semua lapisan masyarakat, dalam hidupnya, tentu mengalami yang namanya kegelisahan tentang banyak hal yang mengitari riwayat hidupnya.

Tapi selain hal-hal “berat” tentang kegelisahan, dalam semangat Jakarta terkini, yang tercermin pada semakin banyaknya taman-taman kecil, trotoar yang diperbaiki, waduk yang direvitalisasi, acara-acara hiburan yang menghadirkan kemesraan sosial, kegembiraan dalam film juga layak untuk dihadirkan. Jika open air cinema ini semangatnya adalah agar masyarakat luas bisa menikmati dan ikut bergembira, maka hemat saya, hal ini justru kurang tergarap dengan baik dalam misbar ini.

Dari empat film yang diputar, semuanya bukan film berbahasa Indonesia. Para penonton tradisional JIFFest yang rata-rata—dalam pengamatan saya—berpendidikan formal tinggi, ekonomi bagus, dan wawasannya luas, tentu tidak kesulitan melahap film apapun yang disajikan penyelenggara. Namun untuk kalangan tertentu (yang ada di Monas, yang telah disebutkan sebelumnya), hal ini bisa terjadi sebaliknya. Dengan kebijakan untuk setiap film asing yang berbahasa Inggris tidak ada terjemahnya, dan untuk film asing lainnya terjemahnya hanya memakai bahasa Inggris, tentu akan cukup menyulitkan masyarakat awam untuk bisa memahami film secara utuh. Alih-alih bisa tertawa dalam setiap dialog yang lucu, mereka justru mengkerutkan kening karena bingung dengan artinya.

Selain masalah bahasa, cerita film pun kurang begitu sesuai menghadirkan kegembiraan masyarakat luas, dan cenderung berat. Namun jika sudut pandangnya menyetujui bahwa berpikir adalah sebuah kegembiraan, maka beberapa film cukup berhasil. Film National Security misalnya, ini mirip dengan deskripsi penyiksaan para aktivis politik 98. Dalam film Korea ini diceritakan, di tengah rezim diktator yang berkuasa, seorang aktivis yang ditangkap dan kemudian mengalami serangkaian penyiksaan. Film ini juga mengingatkan pada film Buenos Aires 1978, yang juga menceritan sejumlah penangkapan dan penyiksaan. Narasi tentang penyiksaan sudah pasti menghadirkan visual kekerasan yang sulit untuk disensor, di titik ini film membutuhkan batasan usia, sedangkan di tempat terbuka seperti silang Monas bahkan anak kecil pun hadir, yang sedikit banyaknya tentu melihat adegan-adegan kekerasan tersebut. Beberapakali saya bilang sama seorang panitia yang kebetulan duduk di sebelah, “ga salah pilih film nih, Bung?.”

Isu kekerasan politik memang pernah terjadi juga di sini, namun kurang dekat dengan keseharian masyarakat pada umumnya. Ada sebuah film yang tidak diputar di Monas, namun termasuk dari 20 film yang diputar di JIFFest, yang sebenarnya lebih dekat dengan keseharian masyarakat pada umumnya, yakni film Mangga Golek Matang di Pohon. Film ini bercerita tentang kehidupan para waria yang teguh memilih jalan hidupnya sebagai kaum minoritas, lengkap dengan kisah stigma dan penerimaan setengah hati dari masyarakat.

Satu hal lagi, ada stand yang menyediakan cemilan gratis bagi para penonton, namun dengan syarat penonton yang hendak mengambil cemilan tersebut harus memperlihatkan akun twitter, dan memastikan telah menjadi follower akun JIFFest. Pertanyaannya adalah apakah masyarakat luas yang “disasar” di misbar ini semuanya mempunyai akun twitter?. Bukan maksud saya hendak mempermasalahkan hal “sepele” seperti ini, namuan kenyataannya para pedagang kakilima tak seorang pun datang ke stand tersebut. Mungkin karena memang mereka tidak tahu, dan bahkan tidak mengerti jejaring sosial dunia maya yang bagi sebagian kalangan telah menjadi makanan sehari-hari.

Dari beberapa hal tersebut, jelaslah bahwa penyelenggaraan misbar yang mulanya mungkin hendak menghadirkan kemesraan sosial yang lebih romantik, namun pada eksekusinya masih kurang tepat sasaran. JIFFest masih terlampau memanjakan kelas menengah-atas yang melek dengan urusan-urusan yang kurang dipahami oleh masyarakat awam.

Namun demikian, apresiasi tetap patut diberikan kepada penyelenggara dan para relawan yang bekerja keras mewujudkan acara ini. Menghadirkan sebuah festival film internasional tentu tidak semudah yang dibayangkan, terbukti dengan sempat terhentinya hajatan (rutin) ini pada dua tahun sebelumnya. Begitu pula dengan ide misbar, yang merupakan sebuah gagasan segar sebagai bentuk usaha untuk “membumikan” film di tengah masyarakat yang beragam latar pendidikan, budaya, dan ekonominya.

Setelah film usai, semua penonton bertepuk tangan dan barangkali berharap hajatan ini kembali terulang di tahun depan. Seperti yang tertulis di brosur; “JIFFest is Back!”, saya pun berharap festival film ini akan kembali datang pada tahun-tahun berikutnya, dan setia menghadirkan kemesraan sosial di tengah kehidupan Jakarta yang terkadang bersumbu pendek. [ ]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s