Higienis

Berkaitan Gambar didownload secara ilegal dari http://www.dreamstime.com/
Berkaitan
Gambar didownload secara legal dari http://www.dreamstime.com/

“Jangan beli di warung sebelah, ke minimarket seberang aja ya!” ucap ibu kost kepada perempuan yang rupanya seorang asisten rumah tangga. Dengan bunyi kunci pagar yang berderik, berangkatlah perempuan itu dengan ayuhan sepeda menuju minimarket yang berada di seberang masjid jami’ di daerah Rawamangun. Segelas kopi yang disajikan coba saya seruput. Setengah senyum, ibu kost itu menjelaskan alasannya melarang untuk membeli sabun di warung sebelah, “Saya ragu kalo beli di warung pinggiran itu, Mas. Takutnya malah ndak higienis nanti.”

Dengan gagang cangkir yang melekat di jari kanan, saya hanya mengangguk. Mengangguk bukan pertanda mengiyakan ucapannya, lebih tepat adalah karena kehebatan perempuan tadi dalam meracik kopi. Rasanya tidak manis, tidak pahit, namun pekat dan tedas.
Baca lebih lanjut

Antara Taman dan Makam

Barangkali tidak kurang dari dua kali saya pernah melihat mobil tangki itu. Pertama di sekitar Monas, malam hari waktu pulang ke arah Pulo Gadung dengan Transjakarta. Yang kedua di Bandung, di gerbang komplek Batu Nunggal, tepat dari pinggir jalan yang bernama Jalan Waas. Mobil tangki berisi air itu bertuliskan “Dinas Pertamanan dan Pemakaman”. Taman dan makam. Kenapa dua urusan ini digabungkan dalam satu organisasi?. Bukankan taman terkait dengan hal-hal keindahan, dan makam berurusan dengan kematian, sesuatu yang sering dipersepsikan menakutkan?.

Bre Redana sempat menulis, bahwa keindahan dan kematian umumnya hanya dilakukan di ranah filsafat. Para filsuf suka menghubung-hubungkan keduanya, katanya. Dia menambahkan, “apakah pencipta struktur birokrasi pemerintahan di Indonesia ‘seprogresif’ para filsuf pemikirannya?”
Baca lebih lanjut

Energi

Kini, hampir semua benda nyaris menggunakan baterai. Jam tangan, smartphone, laptop, kamera, senter, remote televisi, mainan anak-anak, hingga raket nyamuk. Apa yang menarik dan diinginkan orang dari benda yang satu ini? Jawabannya tentu saja listrik. Namun di dalam baterai ini sebetulnya tidak berisi listrik, tepatnya, baterai hanya memiliki potensi untuk menghasilkan arus listrik dalam bentuk bahan kimia.  Bahan-bahan kimia yang ada di dalam baterai ini hanya dipisahkan sedemikian rupa sampai akhirnya tidak bereaksi sama sekali. Ketika kita menyambungkan baterai dengan sebuah alat dan menyalakan sakelarnya, seketika bahan-bahan kimia itu akan bereaksi. Disitulah aliran listrik tercipta.

Baterai hanyalah alat pintar yang mengendalikan reaksi-reaksi kimia sehingga kita dapat mengambil energi listriknya setiap kali kita memerlukan listrik. Baterai juga beragam, ada baterai primer, sekunder, hingga portable charger seperti Power Bank.

Dengan ragam kapasitasnya, power bank kini menjadi juru selamat yang sedang menanjak di kala baterai smartphone hampir, jika tidak dikatakan habis sama sekali. Hidup seakan tak bermakna jika kongkow bareng teman tidak membawa benda yang satu ini. Alih-alih takut ketinggalan sebuah momen karena ketinggalan power bank, duduk di ruangan mana pun terkadang harus bersebelahan dengan colokan listrik untuk sekadar numpang nge-charge. Baca lebih lanjut

Ibu

Ibu adalah filsuf yang paling naluriah ~ Harriet Beecher Stowe

Jika setiap Minggu warga Jakarta menyerbu kota Bandung untuk sekadar melepaskan penat dari rutinitas, tentunya tidak asing dengan sebuah gunung berapi yang letaknya diantara dua pemerintahan, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang, Gunung Tangkubanperahu. Salah satu kawahnya yang dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat adalah Kawah Ratu. Dibandingkan kawah lainnya, Kawah Ratu punya daya tarik tersendiri. Selain pemandangan yang indah, di sekitar kawah ini juga pengunjung akan disuguhi desah suara seolah-olah suara manusia yang berusaha melepaskan diri dari penderitaan. Nadanya bahkan bakal terasa menyayat saat matahari terbenam. Penelitian ilmiah menyebutkan bahwa desahan suara tersebut berasal dari suara uap belerang yang keluar dari perut bumi.

Namun, masyarakat sekitar Gunung Tangkubanperahu ternyata punya kisah lain. Mereka meyakini bahwa suara desahan di sekitar Kawah Ratu adalah suara Dayang Sumbi yang membenamkan diri ke perut bumi demi menjaga kehormatannya karena tak sudi dipersunting oleh anaknya sendiri, Sangkuriang.  Apalagi saat Gunung Tangkubanperahu menunjukkan aktivitasnya sebagai gunung api, masyarakat sekitar menangkapnya sebagai sebuah pertanda untuk melakukan upacara ritual. Mereka percaya bahwa Ibu Ratu, panggilan untuk Dayang Sumbi, akan mampu membantu meredakan aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Baca lebih lanjut