Jakarta Yang Grasak Grusuk

Di kampung halaman saya, para jemaah shalat, terutama shalat Jum’at, akan berdiri dari duduknya begitu seorang iqomat sampai pada lafal, “Qod qaamatish shalaah…” dimana ucapan ini memiliki makna sungguh-sungguh kalau shalat telah didirikan. Dengan tenang dan rapi, barisan yang dinamis, para jemaah akan memulai shalatnya. Kadang-kadang setiap barisan atau shafnya sangat rapat. Mencerminkan kebersamaan. Satu pun tidak ada yang perlu mematikan gadget karena memang mereka tidak membawanya. Segalanya selaras dengan suasana kehidupan di kampung yang masih tenteram dan nyaman.

Lain cerita di Jakarta. Hampir di beberapa masjid, seorang Iqomat baru saja sampai pada lafal, “Allahu Akbar…Allahu Akbar…Asyhadu Alla ilahaa illallah…” jemaahnya sudah grasak grusuk berdiri. Bahkan untuk mematikan gadget pun selalu diingatkan, baik melalui corong mic sang imam maupun tulisan-tulisan yang selalu ada hampir di setiap pojok masjid.

“Deadline sorganya lebih dekat ke Jakarta,” seloroh Joyce, kawan saya yang coba menafsirkan dua analogi di atas. Mungkin Jo ada benarnya bahwa waktu begitu sangat penting di Jakarta.  Misalnya bagaimana jalur pedestarian berubah jadi jalur kendaraan roda dua karena dikejar jam kantor yang terlambat. Atau keengganan kita berbagi tempat duduk untuk mereka yang pantas mendapatkannya di kursi Busway. Karena waktu juga, diam-diam kita malas berbagi kepada sesama.

Dalam penjelasan ini, Michael Foucault -filsuf asal Perancis,- berargumen bahwa intelektual memiliki fungsi penting saat masyarakat dimodernisasi dan dinalar oleh para penata sosial dan para ahli – bahwa mereka harus tetap kritis atas pemikiran yang kelewat nostalgik, utopian, dan abstrak (Reading, 1999: 134).

Mungkin ritual seperti Jum’atan bisa dijadikan patokan terutama bagi kelas pekerja seperti saya. Di penghujung hari kerja, Jum’atan juga bisa jadi ‘obat rehat’ yang lumayan. Sambil duduk di ruangan dingin, meski dengan kipas angin, kadang-kadang ibadah yang satu ini bisa dikatakan godaaan sebagai tempat tidur yang paling mungkin.

“Boleh tidur, asal jangan sampe nyender dinding apalagi berbaring,” terang Kyai Nur dalam pengajian sorenya.

Setiap senin, Kyai asli Betawi ini mengasuh pengajian anak-anak muda di daerah Bintara, Bekasi Barat. Herannya, beliau shalatnya sebentar dan do’anya pendek-pendek. Alasannya sederhana, ia malu kepada Allah karena tak ingin minta yang aneh-aneh. “Minta atau tidak, kondisi kita dengan sendirinya sudah memalukan. Allah memang Maha Pemberi, termasuk memberi kita rasa malu. Kalau rezeki-Nya boleh kita makan, mengapa rasa malu-Nya tak kita gunakan?” ucapnya.

Dari warung kopi seberang sebuah Klinik saya mendengar ceramahnya sore itu, pelan-pelan dibuatnya merenung dan berpikir. “Coba perhatikan di masjid-masjid, jemaah yang memohon kekayaan, tambahan rezeki, naik gaji, enteng jodoh, pangkat. Mereka pikir Allah itu kepala bagian kepegawaian di kantor kita. Allah dipuji-puji karena kita mintain sesuatu. Itu namanya transaksi, bukan ibadah.  Mungkin juga pemerasan yang tak tahu malu.” katanya lagi.

Ceramah Kyai Nur seakan menggema ke seantero Jakarta dan diamini oleh para Malaikat. Tiap Jum’at kita diingatkan tentang ibadah oleh khatib. Tiap hari itu pula kita banyak meminta, namun masih sedikit kita memberi. Memberi pengorbanan waktu untuk bersyukur. Memberi kebaikan kepada lingkungan sekitar. Memberi pengabdian kepada Maha Pemberi. Bukankah sebelum iyyaaka nasta’iin  ada kalimat iyyaka na’budu?

Saya ambil cermin dan mungkin sikap yang grasak grusuk itu termasuk mental korup dalam ibadah kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s