Coming from Second Behind

Bayangkan di siang hari yang panas, misal jam 11 siang, kita berada di dalam angkutan Metromini atau Kopaja dengan kondisi jalan yang macet. Tempat tujuan yang biasanya butuh waktu empat puluh menit, malah sudah hampir satu jam ketika kita berada di setengah perjalanannya. Mungkin satu jam berikutnya baru kita akan tiba di tempat tujuan.  Jika mendapat tempat duduk, bisa jadi gadget akan menjadi pelampiasan untuk mengurangi kekesalan akan situasi di angkutan kota tersebut. Lalu tersebarlah pelampiasan itu ke jejaring sosial, apalagi jika ada senggolan angkutan yang kita tumpangi dengan kendaraan pribadi. Dalam kondisi seperti itu, serempak kita akan mengamini bahwa kendaraan pribadilah yang bersalah. Mereka tidak pernah mau mengalah.

Sebaliknya, ketika kita mengendarai kendaraan pribadi dan dalam kondisi macet dengan cuaca yang panas, apa yang bisa dilakukan untuk membunuh bosan? Lalu bagaimana jika ada kejadian di tengah perjalanan? Taruhlah gesekan dengan angkutan kota yang menyebabkan kita beradu mulut dengan mereka. Dalam kondisi seperti itu, serempak kita akan mengamini bahwa angkutan kotalah yang bersalah. Mereka sok jadi penguasa jalanan ibukota.
Baca lebih lanjut

Iklan

Yang Tersisih di Jalanan

Mengkritisi laku para wakil rakyat yang rajin melakukan studi banding ke luar negeri mungkin sebuah sikap yang usang. Media telah kenyang menyoroti hal itu. Namun selalu ada hal yang menggelitik, bukan soal anggaran yang dihambur-hamburkan, bukan pula tentang hobi belanja dan wisata yang dikerjakan di sana, tapi pernahkah mereka, para wakil rakyat itu, memperhatikan betapa nyamannya ruang publik bagi pejalan kaki di negara-negara yang mereka kunjungi. Bandingkan dengan Jakarta, di mana negara abai dan bahkan meminta maaf pun tidak, kepada pejalan kaki yang menyusuri trotoar, terperosok pada lubang gorong-gorong yang tidak ditutup, dan kakinya patah. Negara tidak hadir di trotoar.

Saya sering mendengar kabar, dan bahkan pernah beberapakali mengalami; “diusir” pemakai kendaraan bermotor dengan klakson yang keras dan berulang-ulang, untuk menyingkir dari trotoar. Jalan yang macet membuat pengendara motor naik ke trotoar dan mengusir saya yang sedang berjalan. Saya tak pernah bisa menerima hal seperti ini. Ketegangan selalu terjadi. Akal sehat si pengendara motor itu entah di mana, barangkali tercecer membusuk di tengah jalanan yang macet parah jahanam. Itu tantangan pertama, bagi siapa saja yang “berani-berani” memilih berjalan kaki di Jakarta.
Baca lebih lanjut

Ibukota Sampah

Duduk saya di warung kopi, tak jauh dari kali yang mengalir pelan, di dekat jalan Kodamar, Sumur Batu. Sekira pukul delapan malam waktu itu. Angin berhembus kencang pertanda akan segera turun hujan. Langit tak menyisakan bintang.

“Mama mau ke mana?,” itu suara anak kecil. “Tunggu bentar, mama mau buang sampah!,” saya yakin itu suara ibu-ibu, pasti orangtua anak kecil tadi.

Saya bertanya sama si Ijong, si penjual kopi, ihwal ibu yang hendak membuang sampah. “Bentar lagi hujan mas, ibu itu pasti buang sampahnya ke kali, biar sampahnya bisa langsung hanyut dan ga nyangkut-nyangkut, emang udah biasa di sini mah.” Dia menambahkan, padahal tukang sampah keliling yang biasa ngambil sampah ke rumah-rumah, setiap hari datang. Baca lebih lanjut

Jakarta Yang Grasak Grusuk

Di kampung halaman saya, para jemaah shalat, terutama shalat Jum’at, akan berdiri dari duduknya begitu seorang iqomat sampai pada lafal, “Qod qaamatish shalaah…” dimana ucapan ini memiliki makna sungguh-sungguh kalau shalat telah didirikan. Dengan tenang dan rapi, barisan yang dinamis, para jemaah akan memulai shalatnya. Kadang-kadang setiap barisan atau shafnya sangat rapat. Mencerminkan kebersamaan. Satu pun tidak ada yang perlu mematikan gadget karena memang mereka tidak membawanya. Segalanya selaras dengan suasana kehidupan di kampung yang masih tenteram dan nyaman.

Lain cerita di Jakarta. Hampir di beberapa masjid, seorang Iqomat baru saja sampai pada lafal, “Allahu Akbar…Allahu Akbar…Asyhadu Alla ilahaa illallah…” jemaahnya sudah grasak grusuk berdiri. Bahkan untuk mematikan gadget pun selalu diingatkan, baik melalui corong mic sang imam maupun tulisan-tulisan yang selalu ada hampir di setiap pojok masjid.

“Deadline sorganya lebih dekat ke Jakarta,” seloroh Joyce, kawan saya yang coba menafsirkan dua analogi di atas. Mungkin Jo ada benarnya bahwa waktu begitu sangat penting di Jakarta.  Misalnya bagaimana jalur pedestarian berubah jadi jalur kendaraan roda dua karena dikejar jam kantor yang terlambat. Atau keengganan kita berbagi tempat duduk untuk mereka yang pantas mendapatkannya di kursi Busway. Karena waktu juga, diam-diam kita malas berbagi kepada sesama. Baca lebih lanjut

Rezeki Tak Selebar Tanah Jakarta

Belum lama, peraturan menerobos jalur busway kembali mendapat perhatian warga Ibukota.  Jumlah denda yang tak tanggung-tanggung kepada mereka yang menerobos jalur busway adalah faktornya. Kendaraan roda empat atau lebih bakal kena denda Rp1 juta, sedangkan kendaraan roda dua akan dikenakan denda Rp 500 ribu. Jika dikalkulasikan, jumlahnya cukup lumayan untuk membeli bergelas-gelas kopi, tentu saja di warung kopi.

Meski denda baru diberlakukan hari Senin (11/11) kemarin, efek jera nampaknya mulai terlihat.  Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta (APTB) jurusan Ciputat-Kota misalnya, bus berwarna biru ini mengalami penghematan waktu tempuh lebih dari setengah jam.  Pihak Polda Metro Jaya bahkan menyebut angka penurunan penerbos jalur Busway sekitar 60-70 persen. Skenario ini sengaja dirancang pemda DKI untuk mengurai kemacetan di Ibukota. Baca lebih lanjut