salesman-nekad

Salesman Nekad

Pernahkah rumah Anda didatangi oleh seorang salesman yang super nekad? Saya mengalaminya beberapa kali. Dulu. Sekarang sudah jarang ada salesman yang ‘bertamu’ ke rumah. Pernah, suatu ketika, saya melihat serombongan salesman melintas di depan rumah. Kalau sudah begitu, saya pasti mencoba untuk menyiapkan kalimat sopan untuk menolak tawaran mereka. Biasanya mereka tidak terlalu memaksa jika kita ‘sopani’. Dan benar dugaan saya. Tak berapa lama seorang lelaki muda mengetuk pagar. Kalimat sopan sudah saya siapkan dalam hati. Saya menduga, lelaki ini akan mengucapkan, “Selamat sore, pak”.Tapi, bukan itu yang saya dapat. Begitu dia melihat muka saya, dari kejauhan si lelaki langsung saja nyerocos dengan suara lantang seperti sedang menegur orang, “Pak! Pak! Tadi ada teman saya ke sini, nggak?”

Sembari agak terperanjat spontan saya jawab, “Nggak tuh. Ada apa?”

“Ini pak, saya mau menawarkan .. bla bla bla …,” tetap dengan suara lantang sementara saya belum sampai di depannya.

Semprul! Entah dimana dulu dia bersekolah jadi salesman: nekad dan tidak beradab.
Baca lebih lanjut

goyang-lidah-agus-salim

Goyang Lidah Agus Salim

Saya selalu tertarik dengan kiasan-kiasan bahasa Indonesia. Karakteristik yang terpengaruh gaya berbahasa Melayu ini buat saya adalah sebuah seni tersendiri. Membuat dan memakai kiasan untuk mereinterpretasi kenyataan tentunya membutuhkan kepekaan, dan olah rasa yang kuat. Salah satu kiasan yang menarik adalah “goyang lidah”, yang seperti kita tahu, dipakai untuk menggambarkan rasa enak dari sebuah panganan yang dimakan seseorang. Bagi saya, membayangkan sepotong steak dengan kematangan medium, masuk dengan mulus ke dalam mulut, lalu saripatinya mencair ketika dikunyah. Memang mirip saat melihat warga kompleks khidmat bergoyang dengan iringan lagu dangdut di panggung tujuhbelasan.

Lalu apa hubungannya dengan Agus Salim? Apakah Agus Salim adalah penghobi kuliner? Tentu tidak. Agus Salim yang selalu hidup dalam aksi kesederhanaan mungkin bukan orang yang menganggap kuliner adalah seni yang menggugah. Pola pikir seperti itu tentunya bukan pola pikir umum warga bumiputera negara jajahan. Baca lebih lanjut

koin-untuk-siapa

Uang Koin, untuk Siapa?

Belum lama ini Bank Indonesia menerbitkan sebelas pecahan desain rupiah baru yang terdiri dari nominal Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000. Sedangkan uang rupiah logam terdiri atas pecahan Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, dan Rp 100. Menurut beberapa media yang meliput, peluncuran rupiah desain baru tersebut diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Gubernur Bank Indonesia sendiri, Agus Martowardoyo.

Bukannya saya mau ikutan membanding-bandingkan apakah rupiah condong mirip yuan, euro, atau bahkan ngotot kalau desain emisi lebih menyerupai real. Sontak berhasil bikin saya geli sambil menahan kewarasan saat melihat komentar-komentar berseliweran di beranda linimasa. Duh Gusti. Baca lebih lanjut

dangdut

Dangdut

Musik dangdut mendayu-dayu dari kamar sebelah ketika pagi hampir tiba. Insomnia menghampiri Joni yang terpaksa mengayuh sepeda, lantas singgah di warung kopi. Satu porsi mie goreng ia pesan. Jarum jam berhenti di angka sebelas ketika pedagang nasi goreng melintas. Jalanan di bilangan UI masih basah, sisa hujan semalam menyisakan genangan. Mangkuk yang tadinya berisi bubur kacang ijo nyaris tak tersisa saat saya memerhatikan tingkah Joni dari bangku seberang. Sebatang kretek saya nyalakan, mengepul ke udara malam yang terus beranjak. Masih asyik mengintip Joni dari bilik etalase yang memajang aneka kaleng susu, sate tusuk, juga deretan kerupuk dalam plastik. Lima belas menit sebelumnya saya tiba lebih awal. Entah sejak kapan kebiasaan baru seperti ini hadir. Tidur lebih awal, bangun sebelum dini hari tiba, melipir sejenak ke warung kopi, lantas tidur lagi. Kopi ternyata tak ada kaitannya sama kantuk. Baca lebih lanjut

12-marga

Kisah Dua Belas Marga: Depok Lama

Tak perlu menunggu lama lagi, dunia akan segera menjadi sangat seragam. Manusia akan menjalani hidup dengan cara yang sama. Vodka tidak lagi diminum di suhu minus, Coca-Cola sudah sampai ke Kampung Naga, Avanza terjual hingga pelosok Palopo, dan tiap seratus langkah di kota besar, pasti ada satu jendela dimana terdengar lagu Rihanna. Lebay sih, hehehe. Tapi sebagian memang benar. Proses karsa, cipta dan karya manusia nampaknya sudah cukup terseragamkan oleh apa yang disebut Globalisasi, dengan Kapitalisme dan Budaya Populer sebagai poin-poin utama dibantu oleh teknologi komunikasi yang makin mendekati ide connecting people dari Nokia.

Tak terkecuali di Indonesia. Budaya-budaya lokal nan unik hasil sejarah panjang harus berjuang keras untuk tetap eksis. Eksis secara organik nampaknya cukup berat, sehingga kebanyakan memerlukan konservasi, bahkan mistifikasi dan fusion, untuk tetap eksis.
Baca lebih lanjut