Terms Conditions yang Dilupakan Berujung Panik dan Pemblokiran

Dua pekan lalu republik ini digegerkan dengan konten eksplisit menjurus pornografi yang bisa diakses melalui WhatsappNetizen pun bersabda meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) meblokir aplikasi besutan Jan Koum ituGayung pun bersambut. Sabda netizen kali ini berhasil mempengaruhi pemerintah. Tanpa basa-basi Kemenkominfo meminta Whatsapp tutup konten eksplisit menjurus pornografi yang membuat republik ini heboh. Kemenkominfo memberi tenggat waktu hingga Rabu (8/11/2017).

Kehebohan ini akhirnya berakhir dengan damai. Namun ada satu sabda netizen yang masih menggelitik yaitu “Whatsapp berbahaya untuk anak-anak,”. Sabda netizen tersebut merupakan wujud sesat pikir. Karena aplikasi pesan instan berlogo telepon hijau itu memang tidak diciptakan untuk anak-anak. Itu termaktub dalam Terms & Condition yang Whatsapp berikan ketika pengguna mendaftar.

Pengguna Whatsapp minimal berumur 13 tahun atau lebih atau umur yang sudah tidak memerlukan persetujuan orangtua sesuai dengan UU yang berlaku di negara tersebut.  Namun, Terms & Condition layanan, terutama layanan software biasanya berbentuk tulisan panjang nan menjemukan. Pengguna layanan peduli setan dengan pasal – pasal yang ada dalam dokumen Terms & Condition Baca lebih lanjut

Iklan

Doa dan Harapan dalam Sepiring Nasi Goreng

Seberapa besar pengaruh menu sarapan pada harapan dan doa untuk aktivitas pagi hari? Cerita ini adalah secuil harapan ibu kepada seorang anaknya untuk menikmati sepiring nasi goreng dijadikan menu sarapan di pagi hari.

Hari minggu saya memang tidak ada rencana kemana-mana. Saya hanya merebahkan badan di kamar; meluruskan tulang; relaksasi otot sambil melakukan hal-hal kecil; baca buku dan baca status media sosial tentunya. Mata mulai redup saat buku yang saya baca telah sampai menjorok ke tengah. Alunan rintik-rintik air dan bau tanah sisa hujan tadi pagi membawa pada rasa kantuk sisa semalam.

Alih-alih tertidur, mata berbinar seketika saat perempuan paruh baya datang dan sodorkan nasi goreng hangat. Di luar, hujan mulai lagi. Bau tanah sisa hujan semalam hilang terhapus oleh hujan yang baru. Hujan yang intensitas pelan namun konsisten menahan orang-orang kampung beraktivitas. Baca lebih lanjut

Filosofi Ngopi Sebelum Filosofi Kopi

Jauh sebelum Dewi Lestari menulis Filosofi Kopi, orang-orang sudah mencari makna di balik kegemaran mereka minum kopi, atau yang lebih akrab di telinga kita dengan istilah ‘ngopi’.

Ngopi sejatinya tak sekadar minum kopi. Penyederhanaan istilah ‘minum kopi’ menjadi ‘ngopi’ justru menunjukkan kompleksitas kegiatan tersebut.

Ada yang menganggap ngopi sebagai keisengan untuk mengisi waktu luang. Saya kurang setuju. Mereka yang sedang ngopi bisa jadi malah sedang fokus berpikir, merenung, bertukar ide, atau mencurahkan isi hati.

Ada relasi yang sedang mereka bangun, entah dengan dirinya sendiri atau orang lain.

Saat ini ngopi sudah menjadi gaya hidup. Di tempat kerja saya, beberapa teman membawa kopi dari berbagai jenis dan merek. Ada kopi Gayo, Lampung, Sidikalang, dan Toraja. Teman-teman yang fanatik tahu bedanya kopi-kopi itu, tapi di lidah saya semua nyaris sama. Maklum, saya tahunya cuma kopi Liong.

Kalau baru pulang liburan, sering mereka membawa oleh-oleh kopi asli dari kota yang mereka kunjungi. Dan beberapa hari kemudian, perbincangan di antara teman-teman tak jauh-jauh dari kopi tersebut. Sembari beristirahat di sela-sela pekerjaan, mereka saling mencicipi kopi itu. Baca lebih lanjut

Jejak Pecinan di Bekas Hutan Jati

Pijat urut, cetak stempel, dan kunci-kunci yang menggantung, menyambut saya menuju jalur ‘tikus’ a la urban, menemukan kotak sejarah yang kalah mentereng dari Monas atau pun Kota Tua.

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar Jatinegara? Stasiun, atau pasar batu akik yang beberapa tahun silam sempat nge-hit, atau justru pasar keberadaan hewan? Bagaimana jika kita lekatkan Jatinegara dengan Pecinan?

Selama ini, kawasan Pecinan di Jakarta identik dengan Glodok, Jakarta Pusat. Namun bukti sejarah menunjukkan, Jatinegara— nama yang juga juga diabadikan Ismail Marzuki lewat Juwita Malam—tersebut memiliki sepotong Pecinan. Baca lebih lanjut

Lima Lagu Tentang Jakarta

Jakarta (dan banyak kota besar lain) adalah magnet yang sangat besar untuk orang-orang daerah yang mempunyai anggapan classic rock akan harapan kehidupan yang lebih baik. Sesaknya tiap-tiap ruang yang ada di Jakarta tak lepas dari orang-orang urban semacam ini. Jakarta bagai laut yang menampung muara anak sungai yang mengalir ke sana, ada banyak riak juga keruh berkelindan bersamanya. Kota yang diumpati seribu umat.

Meski begitu, seberapapun seringnya kita misuh-misuh tentang Jakarta, nyatanya Jakarta tetap ada dalam sudut hati yang paling tak terjamah. Jika kalian meninggalkan kota ini, katakanlah sedang tugas di luar kota atau hal lain yang membuat kalian meninggalkan kota ini untuk beberapa waktu. Pada akhirnya rindu terlarang itu datang juga. Kalian mulai merindukan macetnya, berdesakan dengan orang-orang di KRL, atau juga pemandangan warung pinggir jalan yang memakan ¾ badan jalan. Untung saja Jakarta bukanlah kota yang buruk-buruk amat untuk membuat bungah, meski dalam kadar yang tak pernah benderang. Untungnya lagi, dalam suasana seperti itu masih ada seniman yang membuat karya mengenai kota Jakarta. Ini adalah deretan lima lagu tentang jakarta yang mungkin bisa mengobati rindu terlarang kalian jika sedang tidak di Jakarta. Jakarta adalah paradok itu sendiri, kota yang menawarkan harapan lebih baik di samping kemiskinan yang tidak lebih baik. Baca lebih lanjut